NGOMONGIN GUA PART II – EGO
NGOMONGIN GUA PART II – EGO
Mari kita mulai dengan cerita
seperti ini :
Ketika gua lulus SMA dengan berbagi
macam alas an gua mengurungkan diri untuk melanjutkan ke perkuliahan dan
memilih untuk masuk dalam dunia kerja. Sebagai lulusan baru tentu tidak mudah
untuk mendapatkan pekerjaan. Satu ketika gua dikenalkan sama Bokap gua kepada
anak temannya kebetulan dia kerja di salah satu Homeindustri di Cikarang –
Kabupaten Bekasi.
Singkat cerita gua bekerja di sana
sebagai tukang ngecor (ngaduk semen dan pasir). Iya pekerjaan pertama gua
adalah di homeindustri dimana gaji gua dengan sistem harian, yang perharinya
ketika itu tahun 2009 sebesar Rp. 23.000 per hari. Sebagai lulusan SLTA gua
sering ditanya kenapa gua mau kerja dengan gaji dibayar harian dan teramat
sangat kecil pula, bahkan pekerjaan gua itu jauh dari ekspektasi teman – teman gua.
Disaat teman – teman dan sahabat –
sahabat gua bekerja sebuah industri besar gua malah memilih dan menerima
pekerjaan harian tersebut. Gua selau percara pola dimana kita berada itu adalah
satu cara atau batu lonatan untuk ke tahap selanjutnya, dan gua memilih hal itu
dengan perasaan tidak membedakan pekerjaan sedikitpun, padahal pada tahun
tersebut status sosial lulusan SLTA lebih tinggi dibanding lulusan SLTP dan
putus sekolah, yang mana bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik.
Gua isi hari – hari gua dengan
numpang di kontrakan sodara gua, lebih tepatnya mamang gua, yaitu panggil saja
Loyog dan Dasuki. Gua ngontrak bertiga dengan sodara gua itu, karena gua baru
merantau kerja ke Cikarang dan belum cukup tau wilayah tersebut dan belum punya
cukup uang untuk bisa ngontrak sendiri.
Perjalanan pun dimulai dengan kita
bekerja di bidang kita masing – masing, sebuah pekerjaan yang sebenarnya jujur
diluar dugaan gua sendiri, gua harus terbiasa dengan kotornya pasir dan semen,
gua harus menggunakan tenaga dibandingkan otak gua, masuk kerja jam delapan
pagi pulang kerja jam lima sore, setiap hari gua isi hari gua dengan hal
tersebut.
Waktu berjalan dengan begitu
adanya, dan gua sudah menempuh waktu tiga bulan bekerja sebagai kuli harian.
Pada satu momen di pagi hari di depan kontrakan saat gua, dan dua sodara gua
sedang menikmati sarapan pagi, seperti kebanyakan kotrakan para perantau kaum
buruh, di tempat gua pun setiap pagi selalu riuh dengan berbagai aktifitas dari
yang siap – siap berangkat kerja, menjemur pakaian, yang nyuci kendaraan roda dua,
yang baru pulang kerja, yang masih tidur, dan bayak lagi aktifitas, begitupun
kita yang menikmati sarapan pagi itu dengan seadanya dan tentunya yang tidak
terlewatkan adalah asap rokok teman sarapan di tiap pagi.
Ketiak gua sedang mempersiapkan
motor gua untuk berangkat kerja, Loyog mengajuka pertanyaan ke gua sambil duduk
di atas sepeda motornya
“Udah Rud, hari ini lu gak usah
kerja aja, lu beres – beres kontrkaan aja, gua bayar lima puluh ribu lah
gimana?” sambil senyum
Dasuki yang sedang duduk dan menikmati
gorengan dan uduknya pun senyum – senyum
Dengan santai gua pun jawab “ engga
ah, tetep kerja kan udah jadi tanggung jawab hoh”
Mendengar jawaban gua itu baik
Loyog maupun Dasuki hanya senyum – senyum, dan gua pun pamit untuk berangkat
kerja seperti biasa. Dalam perjalanan ketempat kerja gua, obrolan tadi selalu
menyertai pikiran gua dan menduga – duga maksud dari pertanyaan bahkan mungkin
pernyataan dari Loyog itu. Gua menyadari bahwa mungkin maksud dari Loyog bukan
untuk merendahkan gua dan semacamnya, malah itu untuk membangun mentalitas gua
dan Loyog ingin tahu sejauh mana mentalitas gua itu.
Walau sampai sekarang gua tidak
pernah minta klarifikasi atas hal tersebut ke Loyog tapi apa yang gua capai dan
gua lalui itu menjadi jawaban tersendiri, bagai mana gua tidak harus berkecil
hati dengan gaji seadanya dan pekerjaan jauh dari kata layak ketika itu sebagai
lulusan SLTA. Waktu seperti hakikatnya terus melangkah maju, dan gua maupun
yang lain terus berjalan mengikuti aktifitas dan tanggung jawab masing –
masing.
Pada satu ketika gua di tawari
sebuah lowongan pekerjaan di sebuah PT di Jababeka I Cikarang oleh sodara teman
gua yang mengajak gua kerja di Homeindustri itu, kebetulan mamangnya dia kerja
di PT tersebut, lalu gua pun menyerahkan beberapa berkas lamaran pekerjaan yang
memang sengaja gua bawa dari rumah ketika gua memutuskan untuk merantai ke
Cikarang.
Gua tidak menyangka langkah itu
membawa gua dengan sebuah perjalanan pengalaman hidup yang berharga, singkat
cerita gua di terima di PT tersebut, dan di sana gua mempunyai teman baru dari
berbagai macam daerah di Indonesia, bahkan pada saat kerja di PT itu pun yang
menjadikan perjalanan gua dalam karir dan wawasan dalam dunia Industri semakin
berwarna.
Langkah awal dimana gua bersedia
bekerja yang dibayar hanya harian itu yang membawa gua terus melangkah. Gua
selalu memfokuskan pada hasil itu adalah otomatisasi dari sebuah proses, karena
hal tersebut yang ditanamkan ketika gua SMA, bukan mengharapkan hasil tanpa
melihat sejauh mana kita berproses menuju hasil tersebut. Setelah di Industri
atau manufaktur gua kerja di dunia ritel di salah satu perusahaan minimarket
yang kompetebel di Indonesia, dari sana gua bekerja sebagai marketing di salah
satu perusahaan Asuransi di Jakarta Selatan sebagai Telemarketing.
Perjalanan gua terus gua tempuh
meski memang tidak semudah dengan mencertiakan dalam bentuk tulisan tapi dari
sana gua bisa menapai titik karir yang berbagai macam rupa, yang hanya sebagai
kuli harian sampai sebagai sekertaris dan asisten Direktur Utama bahkan
komisaris sebuah perusahaan. Dan bayak kisah tersendiri mengenai hal itu tentu
bukan di tulisan ini, dalam tulisan ini seperti judulnya gua hanya ingin
mengutarakan sebagai berikut ;
***
Maksud gua gini, terkdang Ego kita
lebih tinggi dari sebuah realitas yang semestinya kita jalani. Mungkin cerita
gua akan jauh berbeda jika ketika lulus SLTA gua lebih memilih Ego gua
dibandingkan pengalaman dan perlajaran hidup. Bahkan tidak sedikit gua temui
Ego itu dalam lingkungan kehidupan gua sekarang, contohnya seorang sarjana
males kerja hanya gara – gara pekerjaanya tidak sebanding dengan gelar yang dia
terima.
Atau banyak di forum pencarian
kerja online yang menanyakan pekerjaan tapi banyak milih karena dari gaji tidak
sesuailah, pekerjaan yang kurang eleganlah, dan berbagai macam alasan yang
mereka kembangkan sendiri karena Ego mereka. Padahal bukan tidak mungkin satu
pekerjaan adalah sebagai batu loncatan untuk mencapai sesuatu yang ingin kita
raih.
Ibarat sebuah memanah, mungkin kita
tidak akan sekali mencapai titik di tengah dengan satu hali lesatan busur
panah, mungkin juga ada orang – orang yang baru pertama kali melesatkan busur
panah bisa langsung ke titik tengah, itu menurut gua karena orang tersebut lucky saja. Selebihnya kita harus
menempuh lingkaran terluar hingga saatnya kita sampai di titik tengah.
Gua selalu menerapkan pola dimana
gua bekerja itu adalah dunia belajar buat gua, sehingga gua bisa mencapai satu
pengetahuan terhadap hal demikian, dari mulai hanya sekedar pekerja kasar,
hingga sampai bisa di posisi sebagai penentu keputusan itu karena gua tidak
melulu mengandalkan Ego gua harus ini dan itu, gua lebih menerapkan flexsibelitas dalam dunia kerja. Bisa
dibayangkan jika gua mengandalakan ego ketika itu, mungkin pengalaman dan pelajaran
yang gua lalui hari ini tidak pernah gua dapatkan yang tentu sangat berharga
dalam karir dan jam terbang gua.
Terkadang gua bingung dengan mereka
yang merasa tinggi hanya karena gelar pendidikan yang mereka raih hingga males
untuk memulai realitas sosial dari titik terendah, seorang dokter spesialis
tidak akan mendapatkan posisi terhebatnya jika dia tidak memulai dari seorang
perawat kesehatan kan, seorang panglima perang tidak akan mencapai posisi
terhebat dalam militer jika dia tidak mulai dari tamtama. Seperti busur panah
tadi, terkadang kita harus menancapkan panah di luar lingkaran ini sebelum
sampai di titik tengah.
Karena proseslah yang membuat kita
berkualitas, proseslah yang membuat kita paham banyak hal, bahkan menurut gua
proseslah yang menjadikan seseorang lebih hebat dari selembar sertifikat ijazah
semata. Bahkan gua sendiri tidak malu pernah jadi ojek online, dan dari
perjalanan tersebut gua pernah ditawari untuk mengisi sebuah posisi strategis
sebuah café atau restoran di pusat karawang dengan gaji yang cukup menarik,
tapi pada saat itu gua lebih memilih bertahan di tempat gua kerja karena ada
satu hal proses yang belum tuntas menurut gua untuk mencapai posisi yang
ditawarkan tersebut.
Bahkan ketika gua kerja di sebuah
perusahaan hiburan terbesar di Karawang ketika itu, gua malah diminta untuk
menentukan gaji yang ingin gua terima, tapi jawaban gua malah gaji itu nomer
yang bukan prioritas, bukan karena gua gak butuh duit, bukan. Karena gua ingin
di hargai sesuai dengan kapasitas dan kemampuan gua sendiri, dari sana malah
gua dipercaya untuk mengelola perusahaan tersebut dengan posisi gua langsung di
bawah Direktur Utama.
Balik lagi kepada Ego tadi,
terkadang kita tidak bisa menerima bahwa sebesar dan setinggi apapun kita dalam
gelar, kita adalah pemula dalam bidang teknis, karena sebuah teori tidak akan
bertahan selama perkembangan terus berjalan mengikuti mekanismenya. Apa yang
salah dari seorang sarjana kerja hanya sebagai jaga took buku atau jaga konter
handpone misalkan, apa salahnya seorang sarana kerja sebagai ojek online
misalkan, dan apa salahnya jika seorang sarjana kerja sebagai kuli panggul.
Menurut gua tidak ada yang salah dalam hal itu.
Yang membuat salah hanya Ego kita
yang terlalu tinggi terhadap apa yang kita peroleh padahla kita belum cukup
mampu dalam banyak hal. Pekerjaan apapun yang kita tempuh hari ini bukan
sebagai penentu kita di hari esok selama kita ma uterus belajar dan
mengembankan diri ke titik tujuan kita, tapi jika kita terlalu nyaman akan
ketidak mampuan maka selamanya itu menjadi bekal kita di hari esok.
Karena menurut gua menilai
seseorang bukan karena seberapa banyak gelar yang diraih, tapi seberapa banyak
kemampuan yang dia torehkan dari sebuah gelar tersebut. Gua tidak pernah bangga
dengan sejumlah sertifikat penghargaan yang gua peroleh, malahan dari itu semua
adalah memacu gua untuk membuktikan bahwa setiap setrtifikat dan penghargaan itu
memang pantas kita terima.
Dan jika boleh gua mengutarakan
prespektif gua tentang ini semua karena faktor pendidikan kita, bukan hanya
pendidikan formal tentunya, seperti dalam tulisan gua yang pertama ( cek di sini ) dimana gua
di didik untuk tidak manja, yang selalu mengandalkan Ego kita untuk mendapatkan
sesuatu itu harus. Setidaknya gua jauh lebih menghargai orang – orang yang mau
berproses dari pada orang – orang yang hanya duduk manis mengandalkan akses dan
jaringan tanpa begitu mengeluarkan tenaga dan pikiran lalu berada dalam satu
posisi lalu bangga dengan hal tersebut.
Dari proses yang gua lalui membawa
gua dalam pertemanan dan koneksi yang lebih luas, melihat sebuah hal tidak
menurut apa yang pantas menurut gua, dan gua lebih memilih untuk terus belajar
dan belajar dalam hal apapun sampai sebuah pengetahuan tidak dapat menjadi
pengetahuan itu sendiri. Dan yang paling penting adalah bisa menerima bahwa
memang kita belum mampu sebuah hal dan mau belajar untuk hingga menjadi mampu.
Seperti yang gua tulis di atas, bawa
kulaitas seseorang harusnya dilihat dari seberapa banyak pengalaman mereka dan
jam terbang mereka dalam hal – hal tersebut, meski banyaknya pengalaman tidak
berbanding lurus dengan keahlian dan kulitas tapi setidaknya itu bisa menjadi
ukuran pertama sebelum ukuran yang lainnya. Karena banyak yang mampu berteori
dari sebuah terori bukan dari pengalaman. Karena menurut gua teori ada
berangkat dari pengalaman terlebih dahulu baru berbentuk teori.
Karena semakin kita mengandalakan
Ego kita maka dunia akan sempit buat kita, cakrawala berikir kita hanya sebatas
A, padahal di balik sebuah A ada A+ (plus) atau A- (minus) bahkan ada juga AB+.
Ini tentang mindset tentang banyak
faktor, tentang banyak seperti apa kita di didik. Karena tidak semua Ego pantas
di jadikan Ego selebihnya hanya sebuah ke Egoan yang tak bernilai.
Komentar
Posting Komentar