NGOMONGIN GUA PART I
Mari
kita mulai dengan cerita seperti ini :
Dulu pada saat Gua masih SD (sekolah dasar) atau lebih
tepatnya kelas III SD, ketika momen pembagian uang tabungan siswa (karena
biasanya sekolah gua itu kalau mau kenaikan kelas pasti akan mencairkan
tabungan siswa sebelumnya) gua merengek
ke Ibu gua untuk dibelikan baju seragam sekolah baru pada hari itu juga, dan
gua masih ingat seberes serah terima tabungan itu pukul 12.15 wib (intinya
setelah zuhur).
Karena semua teman – teman gua beli seragam sekolah baru itu
pada hari itu juga, jadi gua minta ke Ibu gua untuk ke pasar pada hari itu
juga, sedangkan Ibu gua bersikukuh untuk ke pasarnya pada esok hari. Sebagai
anak kecil kelas III SD tentu gua merengek
sampe nangis untuk dibelikan baju seragam sekolah baru pada hari itu juga.
Tentu Ibu gua tidak menuruti keinginan gua tersebut dan tetap pada pendiriannya
untuk belaja di esok hari.
Akibat gua merengek
dan nangis terus – terusan Ibu gua pun jadi kesel dan mape mukul kepala gua
pakai genteng rumah, akibat hal tersebut
kepala gua berdarah banyak (red.bocok) darah merah yang keluar dari kepala gua mengalir
deras sampai baju putih sekolah yang gua kenakan pada hari itu penuh dengan
merah darah.
Sebagai anak kecil tentu bukanya reda nangisnya malah
makin menjadi – jadi sambil menahan rasa sakit dikepala dan shok melihat darah dikepala gua itu
begitu banyak.
Ketika mengingat moment itu perasaan gua dulu campur
aduk, lambat laun semakin dewasa gua sadar, tentu Ibu gua melakukan hal
tersebut bukan karena ingin menyakiti gua atau pun bukan karena Ia tidak sayang
sama anaknya sendiri.
Waktu berjalan begitu cepat, moment hal tersebut yang
mendewasakan gua dalam beberapa hal, dimana gua dan mungkin Adik gua pun di
didik tidak manja yang mana yang kita mau harus di penuhi orang tua. Itu
berlaku pada hal apapun dalam kehidupan gua. Dari mulai ketika jaman handphone
masih menjadi barang langka bahkan alat translate
digital sedang booming gua selalu
menjadi orang terakhir punya.
Gua selalu memendam apapun yang gua inginkan, karena pasti
tidak akan selalu di turuti keinginan gua tersebut sama kedua orang tua gua.
Bahkan pada saat gua mulai kerja pertama kali setelah lulus SLTA, gua minta
motor sama Bokap gua pun tidak langsung di “Iya” kan.
Bahkan ketika gua ingin kuliah, ingin membeli laptop dan
bahkan apapun barang yang gua punya, pasti akan sulit minta ke orang tua bisa
di belikan. Gua harus berusaha sendiri dan menwujudkannya dengan waktu yang
lama, walau pada akhirnya beberapa hal di belikan oleh kedua orang tua gua itu
pun dengan jangka waktu yang amat sangat lama.
Gua berkaca pada hari ini, bahwa gua dan adik gua di
didik untuk tidak manja dan apapun keinginan kita tidak harus selalu di
penuhi. Gua bukan orang yang di didik
apapun ke inginan gua, akan selalu di turuti dan gua duduk manis tidak
memikirakan bagai mana mendapatkanya dengan kepala mau pecah dan tiba – tiba
ada aja barang itu.
Dalam perjalanan waktu yang gua lalui, gua tersadar dalam
banyak hal bawa semua itu nilainya sungguh berharga dalam kehidupan gua. Walau
terkadang rasa prihatin dalam diri gua pun selalu menyelimuti diri. Tapi itu
yang membuat mentalitas gua tumbuh dalam kedewasaan berfikir dan bersikap.
Untuk menjadi dewasa bukan karena faktor usia, tapi cara
berfikir dan bersikap terhadap banyak hal, karena terkadang seorang anak SD
akan jauh lebih dewasa dibandikan kita yang mengaku orang dewasa. Kita hanya
bisa merengek dan mengandalkan ego
kita untuk mendapatkan apa yang kita mau.
Terkadang banyak diantara kita hanya dapat merengek apa yang kita mau harus menjadi
kenyataan tanpa berfikir panjang dan melihat berbagai macam prespektif, kita
hanya mempertahankan ego dengan pembenaran yang kita buat sendiri. Dewasa itu
bukan tentang seberapa banyak angka dalam usia kita, tapi lebih kepada bagai
mana kita menyikapi sebuah hal bahkan banyak hal, itu yang gua dapat.
Gua masih ingat dengan baik ketika sekolah SLTA di Bogor
dulu, untuk bisa makan dengan nasi padang saja gua harus ngamen dulu dengan teman – teman gua, untuk punya komputer di kamar
kosn gua butuh waktu satu semester itu bisa terwujud. Untuk bisa orang tua gua
mengambil raport gua setahun sekali pun butuh perjuangan untuk memintanya,
bahkan tidak jarang raport gua ketika SLTA di ambil oleh orang tua sahabat –
sahabat gua bukan oleh orang tua gua sendiri.
Bisa dibayangkan sikologis anak yang tumbuh dengan pola
pendidikan seperti itu dalam internal keluarga, itu yang membentuk gua hingga
bisa mencapai pada tahapan sekarang, bahkan ketika gua kuliah di berbagai
kampus selalu dengan upaya gua sendiri, gua ingin itu selalu mencoba upaya
sendiri tidak melulu bisanya cuma merengek
semata, bahkan mungkin hal tersbutlah yang membuat gua tidak melulu
ketergantungan sama orang lain, bahkan yang gua liat ke Adik gua yang perempuan
pun itu berlaku, itu yang membuat dia bisa berdikari sampai hari ini, bahkan
gua sebagai kakanya sendiri masih menyusahkannya.
Karena gua sadar gua tidak bisa menggantungkan apapun
yang kita mau pada orang tua kita bahkan siapapun, karena kita akan menjadi
makhluk yang di tinggalkan dalam banyak segi. Sampai pada saat ini gua berada,
pemberian dari kedua orang tua gua selalu gua anggap sebagai hutang yang harus
gua bayar, bukan karena kedua orang tua perhitungan, tapi pola itu yang membentuk
gua dan karakter gua hari ini.
Terkadang gua iri dengan mereka yang meski bukan dari
keadaan orang berada tpi bisa memenuhi rengekan dan hasratnya bisa dipenuhi
dengan begitu mudah. Bahkan ketika hasrat gua untuk hidup dengan apa yang
menjadi kehendak gua sendiri pun gua tidak mampu, karena selalu banyak tuntutan
ini itu untuk gua berpikir lebih dari sekedar mengupayakan kehendak gua.
Terkadang gua selalu senang menyendiri, sambil berfikir
bahwa gua merasa tidak ada kemerdekaan apapun dalam hidup gua, bahkan untuk
waktu sekarang gua lebih nyaman di ruangan gua sendiri di “Ruang Imaji”, di
ruangan ini gua bisa menjadi diri gua sendiri seperti hakikat gua di ciptakan,
di ruangan ini My life My Rule berlaku selebihnya ketika gua keluar dari
ruangan gua ini, gua harus menjadi manusia yang penuh dengan toleransi sosial,
bermemanipulasi diri demi kepetingan sosial dan penuh dengan tuntutan.
Entahlah terkadang gua merasa gua melulu yang harus
mengerti orang lain, sedangkan gua tidak punya hak untuk di mengerti oleh orang
lain, ini bukan tentang kepada siapa seharusnya, tapi menurut gua sebagai dan
kalau kita manusia yang punya akal, harusnya dipergunakan otak kita tersebut,
sehingga lebih bisa menghargai dan tidak melulu tentang kehendak harus
terwujud.
Jika sebuah kata tidak mampu menjadi makna apapun maka
lebih baik diam saja, itu yang selalu gua pikirkan dalam setiap kejdian. Ya ini
tentang gua yang saat ini lebih memilih untuk tidak ingin banyak bicara apapun,
dan lebih memendam yang gua rasakan sendiri, biarlah Tuhan selalu punya
caraNya, terlepas benar salah gua yang mempertanggungjawabkan sendiri tidak
perlu menghakimi.
Komentar
Posting Komentar