NGOMONGIN GUA PART III – MENULIS KEMBALI

 

Mari kita mulai dengan cerita seperti ini :

Sudah lama Gua meninggalkan Blog gua ini dengan terakhir tulisan itu tentang NAPAK TILAS KEMERDEKAAN INDONESIA “75 TAHUN INDONEISA MERDEKA” itu pada 17 Agustus 2020 (bisa di lihat di sini) dan serial “NGOMONGIN GUA” ini terakhir ada di Part II (dua) yang bisa di lihat disini. Yang ternyata sudah tiga tahun lebih tidak nulis lagi dan tidak post di blog lagi.

Sebenarnya bukan tidak nulis lagi, nulis masih jalan walau jarang namun memang tidak di post di Blog aja, yang tadinya mau coba pindah buat konten baru di Youtube Gua, dan itupun sama tidak maksimal. Aktifitas kerjaan dan beberapa kegiatan menjadikan alasan yang sangat logis dijadikan standar tidak aktifnya buat tulisan di blog.

Akhirnya hari ini (Kamis, 11 November 2023 at 23.13 wib) Gua mencoba untuk mengkatifkan kembali jari – jemari dan nalar story telling ini dalam bentuk tulisan blog. Sebenarnya ada beberapa alasan kenapa Gua mencoba aktif kembali membuat tulisan di blog, termasuk melanjutkan serial “NGOMONGIN GUA” ini yang memang belum selesai, dan sebagai info juga bahwa konten #INIPERSEPSI yang tadinya hanya ada di Chanel Youtube Gua, rencanaya akan juga gua buat di blog ini.

Seperti dengan judul tema tulisan ini adalah “NGOMONGIN GUA” secara garis besar pada konteks ini akan banyak cerita atau hal – hal yang berkatian dengan diri Gua sendiri, baik dari berbagai macam sisi, pandangan, sifat, dan lain sebagainya. Yang secara gentleman Gua terbuka secara “mungkin” fulgar tentang diri Gua sendiri. Yang kadang orang lebih memilih menutupi dibandingkan dibagi cerita tentang dirinya sendiri.

Tentu banyak kisah yang ingin Gua bagi di Ngomongin Gua ini, namun karena beberapa alasan dengan rentan waktu yang begitu panjang Gua tidak menulis lagi jadi potongan kisah yang dalam tiga tahun terakhir itu akan ada dalam potongan – potongan cerita yang akan Gua bagi disetiap postingan tulisan di “Ngomongin Gua” ini.

Kenapa dengan tulisan? Karena kadang atau lebih tepatnya Gua merasa suara yang telah terucap tidak menjadikan hal – hal yang dijadikan sebuah pemahaman, kadang hanya bagian yang terlewatkan begitu saja, sehingga suara itu yang keluar dari mulut Gua sengaja gua coba kecilkan dan cenderung lebih banyak diam, terutama di seminggu terakhir ini.

Pernah gak sih Lu merasa cape dengan sebuah situasi dimana omongan Lu itu tidak pernah dijadikan sebuah dasar untuk pembenahan diri, dan malah cenderung disepelekan, itulah yang sedang Gua rasakan seminggu terakhir ini. Bukan tentang benar dan salah, lebih tepatnya kepada tentang peran dan fungsi. Gua dengan sadar bukan seseorang yang sempurna dalam segala hal, itu tentu Gua sadari, bahkan dari rasa kesadaran itu, Gua selalu berusaha untuk terus belajar, menerima kritikan, berdialektika dengan segala sesuatu. Tidak malah mengedepankan Ego seolah apa yang menjadi sikap diri itu kebenaran mutlak.

Pada satu episode ini atau dalam part tiga ini Gua ingin mencoba menyampaikan dalam bentuk rima bait puisi yang menandakan kenapan Gua Menulis Kembali, yang seperti ini :

 

MENULIS KEMBALI

"

Aku terdiam dalam sebab yang terus menjalar

Sering ucapku persembahkan tidak menjadi nalar

Tegukan kata-kata hilang tak bermakna

Seakan diri bukan siapa – siapa

 Dalam jarak yang kutempuh

bersama ribuan peluh dalam tubuh

satu pinta yang ada hanya tawa balasannya

seketika kemelut dalam jiwa yang lemah

tak ampu berkata yang harusnya tak ada

asa muncul mungkin dikala fajar tiba

nyatanya semua hanya kesunyian yang ada

Berlalu, masih saja seperti itu

Aku mendiam berharap memberi ruang

agar setiap bait yang telah terucap menjadi pengingat

sekali lagi, hanya bisa biasa

seolah masih tetap saja salah

lelah menjalar dalam tubuh yang tak lagi kokoh

Aku kira semua telah berbeda

tidak lagi memahkotakan ego yang ada

ternyata benar yang apa seperti

masih menyalahkan segala tanpa henti

sedikit tanpa melihat dari persepsi

Dingin bersama sunyi yang mungkin pergi

hingga tidak ada lagi kata - kata sebagai sebuah romansa

hilang karena merasa lelah dengan semua

meniadakan sambil dengan pembenaran

maka aku menulis kembali

karena kataku tidak berarti sama sekali

aku menulis kembali

sebagai jejak bahwa waktu telah membawaku sejauh ini

aku menulis kembali

berharap pada sesuatu yang tak diharapkan

aku menulis kembali

biar legitimasi akulah yang menjadi penyebabnya

aku menulis kembali

karena sejauh apapun kata ada, tetap saja pemimpin salahnya

aku menulis kembali

sungguh aku sudah cukup lelah tidak dihargai

sampai pada satu halaman terakhir, biarkan saja semua akan menilai apa

aku menulis kembali

"

Komentar