NAPAK TILAS KEMERDEKAAN INDONESIA "75 TAHUN INDONESIA MERDEKA"

 

NAPAK TILAS KEMERDEKAAN INDONESIA

75 TAHUN INDONESIA MERDEKA





 

 

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia, hal – hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain – lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo jang sesingkat – singkatnya.

Djakarta 17 – 8 – 1945

Atasnama Bangsa Indonesia

Soekarno – Hatta


Tujuh lima tahun, iya Tujuh Lima Tahun sejak  teks itu dibacakan kita Bangsa Indonesia telah menyakan untuk tidak tunduk pada penjajahan dan lebih memilih untuk menata kehidupan dalam berbangsa dan bernegara sendiri. Sejak 17 Agustus 1945 kita tidak lagi berada dalam sistem kolonialisme maupun sistem Japanisme kita (red. Bangsa Indoensia) ingin memulai dengan caranya sendiri.

Bung Karno dan Bung Hatta dengan bijaksana dalam teks tersebut memposisikan diri sebagai perwakilan dari Bangsa Indonesia, bukan memposisikan sebagai yang berkuasa setelah mengenggam nafas kemerdekaan untuk satu wilayah Nusantara, dalam hal ini izinkan Saya memberikan penghormatan dengan penuh kebanggaan untuk seluruh putra dan putri terbaik bangsa tersebut, yang membawa kita dalam nafas kemerdekaan.

Sebelum kita lebih jauh mencoba menapak tilas dari tujuh puluh lima tahun kemerdekaan ini, kita coba samakan presepsi dan definisi bahwa makna Bangsa dan Negara itu berbeda. Bangsa adalah seluruh rakyat masyarakat Nusantara yang terikat akan satu tanah air kesatuan dari ujung sabang sampai dengan ujung merauke, yang menyatakan sebagai satu kesatuan nasib dan cita – cita untuk hidup di atas kaki sendiri, bagsa adalah satu cita – cita luhur dari tiap – tiap tatanan budaya Nusantara yang bersepakat menjadi Indonesia.

Negara adalah satu tatanan organisasi kepengurusan untuk menjalankan amanah, dan kehendak Bangsanya, Negara adalah satu sistem politik teritorial dalam satu wilayah yang menyatakan Kemerdekaannya. Negara adalah satu organisasi yang mesti harus berjiwa bangsa menjalankan kehendak dan kepentingan bangsanya tanpa terkecuali.

Mari kita mulai . . . .

Apa yang kita dapat dari Kemerdekaan Indonesia selama Tujuh Puluh Lima Tahun ini?

Sebuah upacara kenegaraan yang sering diadakan pada tanggal 17 Agustus kah, atau perlombaan yang sering muncul dalam setiap tahunya, atau hanya tanggal merah dalam sebuah kalender dan dinyatakan sebagai hari libur nasional, atau pidato terbaik dari seorang presiden yang disaksikan oleh seluruh masyarakat Indonesia?

Tujuh Puluh Lima Tahun tentu bukan sesuatu yang mudah bagi bangsa Indonesia, bukan sebuah keputusan dan langkah yang mengalir begitu saja dalam menjalankan cita – cita bangsa, telah banyak darah, arimata, intrik, dan kepentingan di dalamnya hingga kita berada dalam posisi di tujuh puluh lima tahun ini, apakah hanya sebatas itu Indonesia di merdekakan?

Kita coba menggunakan cara pandang dan berfikir kembali pada masa kolonialisme, sejenak saja; pada saat wilayah ini yang sekarang kita sama – sama sebut sebagai Indonesia telah memasuki kejayaannya dalam ukuran dan waktu tertentu, kita berada dalam sistem pemerintahaan Kerajaan Belanda, dengan sebagai satu wilayah provinsi khusus yang diberikan Kerajaan Belanda kepada Kolonialisme Belanda. Sistem ekonomi berjalan dengan baik, dengan munculnya berbagai macam industri, berbagai macam pertanian, dengan sistem politik, hukum, pendidikan, dan lainnya seperti dan sebagai mana mestinya sebuah Negara dijalankan.

Pribumi (panggilan untuk anak bangsa ketika itu) mendapatkan pekerjaan sesuai dan semestinya yang memang menjadi kesanggupan dan kesesuian, perdagangan yang lancar, pendidikan yang diterima, sistem transportasi, pertukaran dan peredaran uang ketika itu Saya rasa cukup baik, lalu apa yang menjadi keharusan dan kebanggaan untuk meraih kemerdekaan Indonesia setelah tujuh puluh lima tahun ini?

Cita – cita luhur untuk hidup berdasarkan kehendak bangsa Indonesia dan tidak menjadi budak bangsa lain. Bisakah kita menyebutnya satu dasar demikian untuk menciptakan satu gerakan menuju kemerdekaan Indonesia?

Lihat apa yang kita dapat hari ini? Pendidikan hanya bagi mereka yang mempunyai kemampuan, sama seperti kolonialisme.

Dunia industri, pekerjaan dan ekonomi hanya milik mereka yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan. Tidak beda dengan kolonialisme

Politik kekuasaan hanya milik mereka yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat yang di dalamnya ada kepentingan golongan dan pihak – pihak tertentu, apa bedanya dengan kolonialisme.

Harus kah kita sebutkan satu – satu, yang Saya rasa jika kita coba mengkurvakan hasilya tidak akan jauh beda ketika kita masih menjadi bagian dari Hindia Belanda. Ohh tentu ada satu yang beda, Sepak Bola. Iya pada masa Hindia Belanda kita pernah merasakan atmosfer Piala Dunia, bersanding dengan tim – tim hebat yang hari ini masih bertahan, lalu di mana kita hari ini? Menjadi budak atas prodak yang dijual dalam pagelaran tersebut. Kita tidak mampu mencapai itu kembali karena kita penuh dengan tipu muslihat.

Lalu haruskah kita pesimis akan demikian? Tentu tidak.

Sekali lagi tengok sejenak, perbedaan hari ini hanya pada era, jaman, dan waktu semata, sistem, dan tatanan ke Negaraan tidak jauh berbeda, semua hanya sebatas sebagian baik dari pendidikan, kesehatan, politik, ekonomi, sosial, hukum dan lainnya hanya sebatas sebagian yang merasakan hadirnya itu semua, seperti yang terjadi ketika kita masih menjadi kolonialisme.

Dimanakah letak kelirunya?

Ada sebuah pilosofis dari sebuah mentata bangunan, jika kita salah menempatkan satu batu bata akan merubah seluruh bentuk bangunan tersebut. Saya melihat itu yang terjadi dari bangunan Indonesia. Pahami kembali isi teks Proklamasi dengan seksama, dan resapi dengan isi teks prambul Undang – Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, coba sejenak saja, tanpa tendeng aling – aling, jika kita memang bangga dan bangsa yang sama.

Lalu buat pertanyaan sederhana, apakah Negara seperti ini yang diperjuangkan nenek, kakek buyut kita semua yang mengorbankan darah, air mata, kehormatan, harta, dan banyak hal dari setiap peristiwa Negara ini lalui hingga menempuh tujuh puluh lima tahunnya? BUKAN.

Dimanakah salah penempatan satu batu bata itu? Kita lupa dan selalu lupa, bangsa ini menyatakan Kemerdekaannya untuk tidak tunduk pada bentuk penjajahan, baik dari ekonomi, politik, sosial, hukum, pendidikan, dan lainnya, Bangsa ini optimis untuk hidup berdikari tidak tergantung dengan mereka yang ingin memanfaatkan semata, bangsa ini siap berkorban apapun demi berdikari.

Mereka yang hari ini merampas cita – cita luhur kemerdekaan kita semua adalah mereka yang cara pandang dan situasi sosialnya dibentuk dengan satau sistem keserakahan, sistem otoriterian, sistem keangkuhan sistem perbudakan, sistem yang lebih menginjak dari pada merangkul dan mengajak. Mereka yang di didik dengan sistem seperti itu bukan tidak mungkin mempunyai saripati sifat dan tabiat yang sama.

Ibarat sebuah sekolah ada senior yang membulling juniornya bukankah itu akan menjadi penyakit yang akut dan turun temurun demikian pada sekolah tersebut, hal apapun yang dikatakan berbeda akan menyimpan rasa sakit dan amarah yang sama dalam hati, hingga ingin berada dalam posisi yang pernah di harapkan. Hal tersebut yang hari ini menjadi dasar Negara kita, jauh dari cita – cita bangsa.

Tidak percaya? Coba tengok di lingkaran paling dekat dalam dunia organisasi yang kalian ikuti baik di kampus atau di sekolah atau dilngkungan kerja, bukankah itu nyata, mambabibuta untuk sebuah posisi tertentu untuk mendapatkan hal – hal yang tidak bisa didapatkan hari ini, dengan cara dan sistem seperti apapun itu. Bukankah itu yang diwarisakan dari senior ke senior, membanggakan warna dari pada rasa bersama yang sama, membuat sekat sosial padahal kita lahir dari tanah dan udara yang sama. Tentu kita telah menjadi kolonialis diruang kita masing –masing.

Kita yang menjadikan bangunan ini berdiri tegak dengan posisi yang salah, kita yang menjadikan mereka yang berisan sakit hati atas sebuah rezim berkuasa hari ini, kita yang menjadikan kebohongan dan manipulasi sebagai cara bersikap paling baik, kita yang menjadikan kolonialis hadir dan tumbuh dalam sari pati tanah ibu pertiwi.

Kita masuk dijaman bahwa bersikap bodo amat atas satu kondisi Negara adalah cara paling baik dibandingkan ikut serta menapaki, menjajaki, serta mereview kembali kemerdekaan yang kita harapkan, kita berada di jaman bahwa urusan Negara adalah urusan mereka bukan kita, telah mendarah daging, itu bisa kita lihat dari setiap media sosial hari ini, berapa banyak yang berkaitan dengan sejarah dan ilmu pengetahuan menjadi daya tarik anak bangsa dibandingkan dengan metode – metode hiburan atas hasrat dan selangkangan semata.

Kita adalah generasi yang tidak terikat dengan masa lalu secara langsung, yang harusnya menjadi berlian dan mutiara di negeri yang Tuhan anugrahkan jutaan potensinya untuk bisa hidup, tapi kita lebih senang dengan diberikan doving kimia yang disuntikan dengan dosis tinggi ke syaraf – syaraf kita, dan dengan bangga itu adalah pilihan dan keberpihakan. Kita adalah generasi yang seharusnya menjadi penentu bukan mereka yang pernah terlibat dengan kesalahan sejarah dimasa lampau. Tapi kita lebih memilih untuk menjadi opertunis.

Balik lagi kepada masa kolonial, apakah seluruh bangsa ketika itu menyatakan ikut serta dalam satu perjuangan yang sama dengan mengorbankan segalanya? Tentu Saya rasa tidak. Mereka yang terasa nyaman dengan sistem kolonialis akan tetap bertahan dengan sistem itu, begitu dengan sekarang, tapi apakah mereka yang hanya mengikuti dan tidak menjadi penentu atas bangsanya sendiri ketika meraih kemerdekaan tidak merasakan juga hasilnya, tentu merasakan bahkan mungkin lebih dari yang bertidak.

Jadi, tidak perlu seluruh anak bangsa tersadar, cukup kita nyalakan satu sumbu peledak untuk merubah sebelum semuanya menjadi hanya sebatas kata dan sejarah. Cukup!, sudah saatnya kita berteriak dengan kata itu, nyatakan sikap dan bilang Cukup! Untuk kalian semua yang hanya membawa kapal ini ke dermaga tak menentu, mereka yang terlibat dan terikat dengan rezim yang tidak berpihak pada bangsa.

Nyatakan pada mereka angkatan 45, angkatan 60, angkatan 98, bahwa mereka Cukup sampai disini, dan semua kita yang ambil alih, kita yang mengembalikan susunan bangunan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia kepada bentuk bangunan semula, karena kita belum benar – benar sampai tapi ditengah jalan sudah direnovasi.

Mereka yang mempunyai dendam masa lalu, mempunyai rasa sakit hati dimasa lalu kita pensiunkan dini, kita cukupkan dalam tugas mereka, dan kita semua sebagai generasi emas yang ambil alih bagian itu semua dalam bidang kita hari ini, kita yang menjadi pelopor seperti bangsa ini menyatakan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945, dimana generasi muda yang emas lah yang berperan, bukan golongan tua yang membangkang dengan nyaman pada tatanan yang ada, hingga akhirnya golongan tua memberikan support dan dukungan kepada kita. Balik lagi tidak perlu nunggu tidak perlu banyak, karena hakikat sejarah harus ada yang antipasti dan tidak peduli.

Atau kita sama – sama menyatakan sikap untuk tidak berbuat apa – apa? Mari kita samakan sikap untuk hal demikian, lalu kita sama – sama menjadi penghianat bangsa dan menjadi bajingan atas negaranya sendiri, itu jauh lebih baik dari pada kita harus bermuka dua, menjadi parasit atas kepentingan satu golongan dan nyaman dengan demikian, maka pagelaran setiap 17 Agustus hanya sebatas kembang api dimalam tahun baru semata. Sebuah hura – hura dan hiburan patamorgana setelah kembang api itu padam kita disibukan dan dipusingkan dengan urusan kita masing – masing kembali.

Tujuh puluh lima tahun cukup, untuk kita menelan pil pahit atas Negara kita sendiri yang satu sisi kita bangga pada setiap keindahaanya di satu sisi kita membangkang atas ketidak beresan yang terjadi dalam pengelolaanya. Disatu sisi kita nyaman dengan gaji dan pendapatan, di sisi lain kita tidak terima melihat anak kecil berjalan mengadahkan tangan meminta sesuap nasi di jalan.

Satu sisi kita bangga dengan predikat dan pangkat, di satu sisi kita tidak terima jika gabah yang di petik dan ditanam oleh keringat orang tua kita dihargai murah dan bahkan harus meminjam uang ketetangga untuk membeli beras. Kita berada di dua cermin yang selama ini kita jalani tapi kita bersikap semua seolah – olah berjalan semestinya.

Mari mau kemana kita menapaki ini semua, menjadi pelopor perubahan atau hanya menjadi kolonial yang membangkang? Pilihan itu ada ditangan kita semua, setiap pilihan harus kita kunyah dengan konsekuensi yang ada di dalamnya. Masih bersikap apatis? Baiklah kita mari bersikap apatis sama – sama dan jangan ada lagi komentar atau sikap peduli kita di kehidupan ini, diel?

Karena aku lebih senang demikian, jangan bicara moralitas lagi, jangan bicara kesetiaan lagi, jangan bicara kepedulian lagi, jangan bicara empati lagi, jangan bicara nasionalisme lagi, mari kita sama – sama menjadi pengerat di tubuh dan lumbung padi kita sama – sama, aku akan sangat senang jika itu pilihan apatis nya.

Tapi jika masih ada rasa optimis dari dada kalian, jika masih ada rasa gundah pada kalian, masih ada rasa berjuang sampai darah penghabisan untuk bangsa ini, bukan hanya untuk keluarga dan sanak family, maka aku bukan berada di belakang kalian, aku berada di sebelah kalian, aku berada dekat dengan kalian untuk mendobrak pintu gerbang kemerdekaan itu. Menghantam setiap terjangan, mengepal setiap tindakan, dan berjalan seiringan. Jika itu masih ada, jika tidak maka izinkan Saya tidak ikut serta dalam perayaan apapun yang menurut negeri ini perayaan besar.

Dan jangan tanyakan kenapa apalagi menghakimi, karena kita tidak bisa berbuat yang semestinya, kita hanya menganguk pada sistem newkolonials dan perayaan patamorgana, kita tidak sepenuhnya menjadi Indonesia, kita hanya meminjam namanya untuk kepentingan kita semata. Dan tujuh puluh lima tahun ini hanya sia – sia.

Komentar