kemunduran semangat Putra-putri Bangsa


Lembaga Pendidikan sudah tidak lagi berdasarkan fungsinya sebagai Lembaga Independen yang membentuk dan membuat karakter seseorang Lebih potensial dalam Intelektual, maupun karya nyata demi pembangunan Bangsa. Saat ini Lembaga Pendidikan hanya dijadikan sebagai Alat pencipta abdi Kapitalisasi Bangsa sendiri, dengan kata lain bahwa kemerdekaan bangsa yang telah berjalan sekian lama tidak menghasilkan apa-apa, yang dihasilkan hanya Upacara pengibaran Bendera merah-Putih setiap tanggal 17 Agustus dan melakuan kegiatan yang tidak berkaitan dengan arti dan makna Kemerdekaan itu sendiri.
Para senior kita terdahulu, para pembebas bangsa kita terdahulu, membuat pendidikan serta lembaga tersebut sebagai wadah dan alat perjuangan dalam menentukan nasib serta harapan Bangsa, terbentuknya Bodeotomo, Sarikat Islam, serta gerakan pelajar lainnya sebagai contoh dasar arti dari Pendidikan itu sendiri.
Bahwasannya Pendidikan serta Lembaganya bukan hanya memberikan materi dalam bentuk kata-kata yang terangkai sebuah kalimat menggambarkan sesuatu, tapi menciptakan dinamika yang dinamis dalam mengapresiasi setiap pemikiran-pemikiran terhadap kondisional yang ada. Sejarah telah mencatat bahwa mereka-mereka (para pembebas bangsa) adalah sebagai pelaku sejarah Negeri ini di fase kerisis Idiologis, mereka semua memikirkan tentang nasib bangsa untuk masa selanjutnya, bukan hanya untuk dirinya sendiri.
Perjuangan mereka dalam menempuh sebuah Pendidikan tidak semudah dan se-simpel sekarang, bertarung melawan tirani-tirani yang ada, bertarung melawan keterbatasan dan tekanan, tapi dari itu semua hasil yang diraih pun menjadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercatat dalam tinta emas sejarah yang bukan hanya di rasakan oleh rakyat kita semata bahkan Bangsa lain pun sampai ke belahan bumi nan jauh di sana. Apakah arti dari Kemerdekaan Bangsa kita hanya dijadikan sebagai pembebasan yang mengartikan itu semua sebagai benbas berbuat apa saja tanpa makan dan tanpa tanggung jawab untuk mengantarkan bangsa ini ke arah yang merdeka secara lahir dan batin.
Satu yang nyata dari hasil Pendidikan sekarang bahwa hanya menciptakan Abdi-abdi kapitalisasi adalah banyak diantara kita, bangsa kita, putra-putri ibu pertiwi, yang menjadikan Pendidikan hanya tiket untuk amsuk dalam dunika kerja, mindset mereka telah didoktrinisasi semenjak ada di dalam lembaga tersebut, Uang menjadi prioritas, Diri menjadi hal utama, Bangsa dan Negara menjadi setatus belaka.
Intelektualitas dan kualitas diri hanya dijadikan sebagai alat untuk membalikan modal belaka, satu fakta dari itu semua:
Bangsa kita bukan bangsa yang tertinggal dan bukan bangsa yang Bodoh secara akademis, telah banyak bukti putra-putri Ibu Pertiwi telah mengharumkan tanah ini di ajang olimpiade dan internasional edukasi, dengan perestasi yang membanggakan tentunya, coba saja hitung dari setiap tahun angkatan berapa anak bangsa yang potensial tersebut, serta pada akhirnya bermuara kemana mereka tersebut? Tak lain tak bukan menjadi antek-antek Asing dan Kapitaisme. Aset bangsa tersebut yang seharusnya menjadi tulang punggung Bangsa, harapan negeri ini “dipaksa” untuk menjajah Bangsanya sendiri, di dunia Kerja Putra putri pertiwi yang potensial sebagai aset generasi penerus bangsa di iming-imingi posisi/jabatan yang secara kalkulasi finasial setara dengan Loper Koran di Negara Pemodal tersebut, serta dipaksa untuk menindas bangsanya sendiri yang menjadi bawahan atau pekerja dengan posisi rendah. Di bidang Politik, aset bangsa hanya dijadikan alat mobilisator Asing, dengan pembentukan kebijakannya yang sama sekali tidak berkepentingan terhadap bangsa ini, hanya untuk kepentingan Pemodal dan kantong pribadinya yang pada akhirnya hanya membuat semakin terpuruk lah kondisi bangsa ini.
Rakyat hanya dijadikan kambing hitam dan diadu domba belaka.


(Bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karawang dalam Remang-remang part I

NGOMONGIN GUA PART III – MENULIS KEMBALI

BERJUMPA KEMBALI TEMAN SMA