Karawang dalam Remang-remang part I

Malam Tadi

Sebelumnya, alasan gua menulis ini adalah disebabkan pertemuan gua dengan seorang sahabat lama, iya sahabat lama sekali dan baru bertemu lagi malam tadi. Oh iya, tulisan ini gua buat pada tanggal 29 Desember 2017 tepat pada pukul 02.30 wib pada saat gua mulai mengetiknya.


Malam tadi, sekitar pukul 20.00 wib setelah rasa lelah mencari sedikit Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, motor yang gua kendarai gua coba arahkan ke Jalan Tuparev dekat dengan Alun-alun Karawang. Niatnya adalah ingin nongkrong disebuah angkringan depan Bank BRI di jalan Tuparev itu, memang tempat ini biasa gua pakai buat nongkrong sama temen-temen gua selain Angkringan yang ada di Jalan Kertabumi dekat dengan Rumah Sakit Bayukarta Karawang.


Setelah melewati desakan kendaraan di bundaran Alun-alun Karawang, dan setelah melewati beberapa jalan alternatif agar bisa sampai di Angkringan BRI (begitulah biasanya gua menamainya sama temen-temen gua) gua pun sampai di lokasi tersebut, seperti biasa setelah memesan Teh Susu Panas gua duduk lesehan diatas tikar sebrang BRI depan toko yang menjadi tempat favorit gua.


Setelah pesanan yang tadi gua pesen hadir dihadapan gua, sambil menyalakan rokok, gua mencoba browsing beberapa artikel. Jujur ada kemelut antara hati dan otak gua saat itu, entah sedang adu kekuatan atau saling berdialektika satu sama lain, hingga apa yang gua baca pun hanya sebatas formalitas semata.


Sambil menyaksikan dinamika sosial yang terjadi di sekitar tempat gua menyandarkan segala kemelut persoalan tentang perjalanan setiap langkah kehidupan yang Maha misteri ini. 

Segala itu menjadi kontras dengan apa yang menjadi dan membentuk cara berfikir gua selama ini. Anak muda Karawang hari ini sedang menuju sebagai anak muda seperti di ibu kota. 

Karawang hari ini adalah Karawang yang meninggalkan jubah kesederhananya, meninggalkan kearifannya, meninggalkan segala bentuk perhiasan yang menjadi ciri dan dirinya. Karawang hari ini adalah Karawang yang sedang ditato moderenisasi.

Lalu ada sebuah mobil nisan yang berhenti di depan gua, setelah mematikan mesin mobilnya, lalau orang yang ada di dalamnya keluar satu persatu, sekitar ada enam orang yang keluar dalam mobil tersebut sambil bercengkrama satu sama lain dan menuju sebuah tempat duduk yang memang semuanya lesehan di atas tikar.


Satu persatu orang-orang itu gua perhatikan secara sekilas, sambil mencoba menyibukan diri dengan brwosing berita dan sesekali cek WhatsapMassnger. Lalau dari tempat duduk gerombolan manuisa tadi yang baru keluar dari mobil itu ada yang menyapa gua. Seketika gua menoleh ke arah suara tersebut, sambil tersenyum ternyata cewek salah satu grup kumpulan manusia itu menyapa dan melambaikan tangan nya ke arah gua.


Jujur awalnya gua gak kenal, dan secara seksama dan memastikan bahwa sapaanya memang ke gua, karena malu dong kan kalau ternyata bukan gua yang di sapa. Zonk banget kan apalagi tempat umum.

Lalau si cewek yang tadi nyapa gua itu, beranjak dari tempat duduknya, menghampiri keraha gua, dengan gaya sok Cool nya gua bersikap biasa aja, karena gak mau ke geer-an. Setelah tepat berada di dekat gua si cewek itu nyapa, "Rudi kan? Rudi Badrudin?" Tanya si Cewek itu memastikan bahwa nama tersebut memang benar milik orang yang sedang dia sapa.


Seketika gua secara menyeluruh menelisik cewek itu, menyatukan daya ingat gua mungkin seseorang yang menang gua kenal, lalu gua jawab "Iya, sory siapa ya?" Karena daya ingat gua tidak lagi bisa menembus tabir dimensi lupa.

"Gua Nindy, masa lu gak inget temen SD woyy" si cewek itu mencoba memperjelas dirinya, dan seketika memori ingatan gua merespon ke momen waktu gua SD agar bisa mengenali si cewek itu.

"Oh iyaa,,haaa sory gua lupa, gua kira siapa" setelah daya ingat gua kembali utuh dan mengingat bahwa si cewek itu adalah teman, sahabat lama gua. Yang namanya adalah Nindy.
Akhirnya Nindy izin ke temen-temen nya yang sedang kumpul tadi buat duduk di tempat gua. 

Alasan gua menulis ini bukan terkait pertemuan dengan sahabat lama gua Nindy, tapi dalam obrolan gua dan Nindy malam tadi, yang bahakan bisa dibilang itu obrolan keraha diskusi malah. 

Bukan haha hihi pertemuan teman lama bahkan sahabat lama, tapi lebih membicarakan hal-hal yang gak biasa dibahas oleh setiap orang kalau bertemu teman atau sahabat lama.

Mungkin sekedar basa basi kita jika keremu temen atau sahabat lama yang sudah lama gak ketemu itu lebih kepada pertanyaan-pertanyaan atau pembahasan ; tinggal dimana, sibuk apa, cerita-cerita masa lalu dan bahas temen-temen yang lain dan sebagainya. Pertemuan gua dengan Nindy jauh dari kata itu semua.


Hampir sepuluh tahun lebih gua gak pernah ketemu Nindy, dan baru ketemu malam tadi dengan rangkaian takdir maha dasyat dari Tuhan. Ternyata setelah lulus SD Nindy pindah ke Jakarta bersama orang tuanya, lebih tepatnya Jakarta Selatan. 

Setelah lulus SMA dia lanjut kuliah ke UGM ngambil jurusan Hubungan Internasional (HI). Sebulan yang lalu dia baru balik dari Belgia ternyata, dan udah seminggu di Karawang karena ada beberapa urusan katanya.


"Hebat lu sekarang Nin" respon gua setelah mendengar cerita dia.

"Yailah normatif banget sih respon lu Rud, haaaa" 

"Serius gua mah, bukan basa basi kata ya, malah gua gak nyangka aja, lah gua masih gini-gini aja Nin"

"Lu tau gak, di Jogja gua ketemu cewek dan dia pernah cerita ke gua, bahwa yang menjadi inpirasi dia itu salah satunya lu, dan dia temen SMA lu yang kuliah di daerah Jogja, gua kan kaget ya, semenjak hari itu gua coba cari akun mendsos lu susah banget" Nindy sambil ketawa.


"Dari cerita dia tentang lu, gua mulai tertatik dan terinspirasi dengan tulisan-tulisan lu, cara berfikir lu, dan cara lu dalam melihat sesuatu itu gak hitam putih" sambung Nindy sambil minum Susu Jahe yang ia pesan.


Ternyata Nindy pernah menjadi Delegasi Forum Mahasiswa Muslim Se-Asia, yang gua lupa namanya apa mah yang dibilang Nindy, haaaaa.

Setiap Negara se-Asia dipilih hanya 5 orang, dari lima orang tersebut hanya ada dua cewek dari Indonesia, salah satunya dia. Dalam forum tersebut banyak pembahsan dan pengkajian baik salam lingkup sejarah Islam, fenomena, perkembangan, dan banyak lagi pembahsan dalam forum tersebut. Dalam dua tahun delegasi tersebut bisa sampe empat kali ke Asia sesuai tempat kesepakatan diadakanya Forum tersebut.


Mendengar hal itu dari Nindy gua sampe mikir bisa gak ya gua keliling Asia gratis kaya gitu.haaaa.

Di Jurusan Hubungan Internasional yang dia ambil ada beberapa organisasi atau forum internasional katanya, dan Nindy hanya ikut empat organisasi atau forum internasional. Dia juga pernah ikut dalam delegasi untuk PBB pada tahun 2012.


Banyak informasi tentang dunia yang gua dapet dari diskusi santai sama Nindy malam tadi, mengenai beberapa isu Global dan bahkan sampe kepada isu yang sifatnya rahasia dan berdampak akut kalau gua bisa bilang dari sisi sosial. Satu yang buat gua salut dari dia adalah bahasa Sunda dia masih pasih, walau terkadang dalam obrolan dia suka memakai kosakata asing (inggris) yang selalu gua koment bahwa dia terjajah bahasa.


"Haaaa, nah ini yang pengen gua denger dari lu langsung rud, gua gak terjajah bahsa ya, dan bukan dalam kategori itu tentunya" sambil Ketawa Nindy mencoba mengklarifikasi, tentunya dengan bahasa Sunda dia menjawabnya.


(edisi belum beres, karena gua ngantuk buat lanjut ngetik di blog gua, tar gua lanjutin terkait pembahasan intinya yang buat gua ini perlu dipublis dan gua tulis di blog gua)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

NGOMONGIN GUA PART III – MENULIS KEMBALI

BERJUMPA KEMBALI TEMAN SMA