Karawang, 384 tahun bukanlah waktu yang singkat
untuk Kabupaten Karawang. Kabupaten Karawang yang menjadi bagian dari wilayah
Jawa Barat dengan letak geografisnya ada pada 107⁰02’-107⁰40’ BT dan 5⁰56’-6⁰34’ LS, dilihat dari letak geografisnya dan daerah administrasi
pemerintahanya Kabupaten Karawang cukup potensial. Ada tiga hal jika berbicara
Karawang yang secara umum orang akan tahu adalah :
1. Goyang
Karawang
2. Lumbung
Padi
3. Peristiwa
Rengasdengklok masa Proklamasi 1945
Tiga hal tersebut kini semakin terkisis terutama pada nomer dua dan tiga,
Karawang yang dulu bangga menjadi kota sebagai Lumbung Padi Nasional karena
hasil produksi Padinya memang sangat melipah, kini hanya tinggal lah cerita
rakyat yang selalu menjadi teman tidur para anak-anak. Apalagi terkait Peristiwa
Rengasdengklok pada masa Proklamasai 1945, hal ini pun tidak banyak yang
membuat orang bangga akan peristiwa tersebut, padahal jika kita boleh mengclam
dan sedikit tidak melulu terdogma oleh buku sejarah anak SD yang etah siapa
pengarangnya dan “katanya” ilimiah itu, bahwa sebenarnya Kemerdekaan Indonesia
sebelum di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 telah terjadi lebih dulu di
Karawang atau lebih tempatnya Rengadengklok.
Tapi itu semua dalah cerita, itu semua adalah keingginan kita membuat rasa
bangga akan temapat kelahiran kita yang pernah berjaya dimasanya. Hari ini ( 14
September 2017) Karawang sedang merayakan hari jadinya yang ke 384 tahun, semua
bergembira, semua berbahagia, semua ikut dalam euforia dan semua seakan
terkontaminasi dalam perayaanya, baik itu dalam bentuk edit foto di sosmed,
ataupun ikut serta dalam acara tersebut.
Tidak ada yang salah akan euforia tersebut, karena dengan begitu kita semua
dapat melihat ternyata masih ada orang yang bangga akan daerahnya sendiri yaitu
Karawang tercinta. Lalu 384 tahun ukurannya dari mana? Ternyata ukuruanya
adalah dari masa kepemimimpinan Raden Adipati Singaperbangsa pada tahun 1633.
Disanalah ukuran waktu dimana Karawang telah merayakan hari jadinya yang ke 384
tahun.
Nyatanya pada tahun 1633 itu wilayah Karawang masih mejadi bagian dari
Kerajaan Galuh, dengan Raden Adipati Singaperbangsalah sebagai pemimpinnya kala
itu, yang jelas Karawang belum menjadi wilayah yang merdeka secara teritori
sebuah negara, karena jika ukuranya adalah pada saat masa kerajaan di tahun
1633, berarti Indonesia sendiri sebagai suatu negara harusnya bukan di ukur
dari tahun 1945, karena konsepsi Indonesia sebagai satu bangsa dan negara
adalah pada tahun 1928.
Karena pada tahun 1928 dengan bertepatan monetum Sumpah Pemudalah Konsepsi
Indonesia muncul di bumi Nusantara ini, karena pada tahun 1945 Indonesia
menyatakan bebas dari teritori wilayah Penjajahan yang pada saat itu dari
negara bagian Belanda beralih menjadi wilayah bagian Jepang (karena Jepang
mengalahkan Belanda dan kaidah sistem perang). Begitu juga Karawang, karena
pada saat itu Karawang masih dalam bagian dari wilayah Kerajaan Galuh, harusnya
ukuran dari wilayah yang merdeka secara teritori dalam sebuah Negara maka
ukuran waktunya pada tahun 1945 karena pada tahun tersebutlah Indonesia baru
bisa menyatakan berdiri sendiri sebagai sebuah Bangsa dan Negara yang mempunyai
wilayah dari Sabang sampai Merauke termasuk Karawang.
Tapi disini bukan untuk membahas hal tersebut, walau bagaimanapun hal itu
menjadi sebuah kebanggaan kita bahwa kita (Karawang) mempunyai sebuah tokoh
termasyur yaitu Raden Adipati Singaperbangsa, pada nyatanya hari ini nama besar
beliau hanya dijadikan sebagai Stadion di Kabupaten Karawang, jarang sekali
generasi milenia hari ini yang ingin mempelajari ataupun sekedar ingin tahu
siapakah Raden Adipati Singaperbangsa tersebut. Maka biarkan itu semua sebagai
satu sejarah bahawa kita adalah daerah yang kaya dan penuh dengan keberkahan.
Kembali pada perayaan hari jadi Kabupaten Karawang yang ke 384 tahun,
sebelum Saya menulis tulisan ini, dibenak saya muncul sebuah pertanyaan yang
mendasar sebenarnya, yaitu :
1. Dari
manakah angaran perayaan HUT atau Hari jadi Kabupaten Karawang itu?
Dari pertanyaan itu dalam benak saya maka saya mencoba mengajukan sebuah
jawaban yang sipatnya opini karena belum mendapatkan jawaban pastinya, pilihan
jawabanya adalah :
A. Dari dana APBD 2017
B. Dana sumbangan
masyarakat dan yang lainnya
C. Tidak
menggunakan dana sepeserpun alias gratis
Silahkan jawab sendiri karena saya sendiripun masih mencari jawaban
tersebut. Lalu pertanyaan kedua muncul, yaitu:
Berapakah total biaya yang dikeluarkan untuk acara HUT Kabupaten Karawang?
Maka alternatif jawabanya pun diantaranya adalah :
A. Ratusan
B. Jutaan
C. Miliyaran
Lagi-lagi jawabanya disesuaikan kehendak kalian semua.
Dari pertanyaan – pertanyaan itulah Saya mencoba menuliskan hal ini sebagai
bentuk rasa empati rasa peduli terhadap Kabupaten Karawang, ketika semua orang
ber Euforia dalam kegembiraan dan sanjungan dalam ikut serta merayakan HUT
Kabupaten Karawang, Saya memilih dengan cara mengeluarkan keresahan melalui
tulisan ini.
Mengapa tulisan ini saya beri judul Euforia? Karena kita lupa, kita dimabuk
kegembiraan yang sesaat atau acara seremonial yang infeknya tidak sangat
signifikan untuk Kabupaten Karawang itu sendiri, mengapa demikian karena dengan
cara yang sangat meriah tersebut tentu ada biaya, lalu berapakah total biaya
yang dikelurkan oleh Pemda setempat untuk acara tersebut? Padahal kita lupa,
masih banyak kemiskinan, pengangguran, dan ketidak sejahteraan di Karawang.
Lalu apakah pantas jika kita berpesta di tengah – tengah kita masih ada yang
memerlukan bantuan, masih butuh hal yang lebih subtansial dari pada seremonial?
Kenapa kita seakan lupa akan hal tersebut, lalu bagi mereka yang ikut dalam
partisipasi acara tersebut pasti akan banyak argument yang seolah-olah
dibenarkan atau pembenaran. Sederhananya, HUT Kabupaten Karawang yang ke 384
itu untuk siapa?
Jika memang HUT itu untuk warga Kabupaten Karawang maka seharusnya semua
ikut merasakan kebahagiaan dan dalam euforia tersebut, nyatanya? Itukah
cita-cita dari Raden Adipati Singaperbangsa yang gigih dalam mengusir
penjajahan di tanah Karawang dan terus berusaha agar rakyatnya kala itu
sejahtera bahkan tidak ada yang lapar di samping yang kenyang.
Pada tanggal 13 September 2017 sehari sebelum perayaan yang begitu masyur
dan gemerlap di HUT Kabupaten Karawang saya membaca sebuah berita online daerah
bahwa Karawang tidak mempunyai anggaran untuk merenovasi sekolahan yang rusak
(baca : Karwang tidak punya anggaran renovasi
sekolah yang rusak ) ini sangat miris bukan. Padahal jelas
Pendidikan sangat diperlukan bagi setiap elemen masyarakat Karwang, bahkan
bukan hanya haln itu, para petani mengalami kerugian yang besar akibat harga
padi yang terus menurun dan bibit serta obat-obat untuk padi sangat mahal,
masih ada yang kekuarangan air bersih dari musim kemarau ini di wilayah
Karawang, dimana mereka semua? ternyata ada di atas panggung dengan tawa dan
kegembiraan.
Bahkan yang sangat miris, di sisi lain di tempat acara tersebut masih ada
yang kepanasan menunggu sang “maha” muncul, padahal merka adalah rakyatnya,
warganya, yang seharusnya dipioritaskan bukan malah diacuhkan atas nama aturan
dan kebijakan.
Karwang engkau telah menempuh 384 tahun, bukan waktu yang singkat untuk
itu, kembalilah wahai kota kelahiranku, dimana hamparan hijau dan senyum
bahagia para petani itu aku rindu, rindu dimana setiap sore aku masih bisa
bermain bersama di hamparan sawah dan ladang, yang kini tergulas zaman yang
menamakan kemajuan. Tidak, aku tidak antipati terhadap kemajuan, tapi kemajuan
yang mengingkari hati dan jiwa para pemberi jelas itu bukan untuk mendiamkan.
Karwang hari ini engaku tumbuh bukan lagi keramahan, terlalu banyak “penjajah
berseragam” yang seolah mengatas namakan rakyat tapi bersikap ibarat preman dan
memalak. Karawang sekarang kau dibutakan oleh pembangunan dan industrial, kau
menjadi jumawa akan yang demikian
seakan itu bisa menghidupkan nyatanya itu hanya alibi dari penjajahan.
Karawang, kemanakah diri sejati mu, yang luhur akan budaya dan teradisi,
meminang dan mendidik anak seantero diri, namun kini kau hanya sekedar ingin
memperkaya diri. Itukah yang kau anggap sebuah kemajuan? Meninggalkan sejatinya
tersenyum dan mengiba seolah kau lemah, nyatanya kau menjadi duri dalam daging.
Apalgi yang kau benarkan dengan sebuah kebijakan dan aturan? Padahal kau
sendiri telah berucap untuk mensejahterakan, mensejahterakan bukan mengayakan
semunya, tapi memposisikan dalam setiap kebutuhanya, tapi kini etah dari mana
kau datang, merusak dan menghancurkan tatanan.
384 bukan waktu yang singkat, untuk kita terus berkhianat, apalagi hanya
memperdebat, sudah saatnya kau ingsaf dari sikap arogan dan kenaifan, aku rindu
kau yang ramah, kau yang peduli dan nilai-nilai gotongroyong. Nyatanya itu
semua mimpi, mimpi dimana aku berada di tengah-tengah kebusukan yang disembunyikan.
Ya, ini hanya sebuah opini, dari keresahan jiwa yang tak berarti bagimu,
dari seorang anak manusia yang pernah merasakan indahnya kota kelahiran, siapa
yang peduli, karena kau sibuk dengan pencitraan dan kemasyuran diri.
Ini hanya catatan kecil dibalik tirai yang usang dan lebam oleh serutu dan
kopi, sebuah kecintaan yang berbeda dibalik semua mencoba sama, kecintaan yang
selalu ingin berbuat tapi terus dikebiri. Karawang, semoga di hari jadi mu yang
ke 384 ini menjadi sebuah tolak ukur dari mana dan mau kemana, harapan dan doa
yang tercurahkan dari setiap warganya menjadi sebuah penyemangat serta energi
untuk menyudahi sikap yang arogan yang terorganisasi.
Semoga kita tidak larut dalam Euforia sesaat yang hanya membawa kita dalam
sesat dan maksiat, serta hegomoni ini cepat berlalu, menghilang dan tak
berdebu, seremonial bukan sesuatu yang salah, jika kita tau kemana harus
melangkah dan sama rasa kanyaah untuk
daerah dan lembur kita semua.
Komentar
Posting Komentar