About 27 "Hari Lahirnya Pancasila"



Kita awali semuanya dengan ini :

Dua Puluh Tujuh Tahun yang lalu, dimana ada seorang wanita yang sedang berbaring menahan segala rasa yang ada di tubuhnya, beralaskan tikar yang terbuat dari serabut pelepah daun kelapa, yang berbantalkan yang amat lusuh.

Pagi itu, seorang wanita yang sedang berbaring tersebut berkecamuk perasaan yang tiada tara, perasaan sakit, haru, dan bahagia menyelimuti sebuah rumah dengan bangunan yang masih khas bersama arsitek alami Tatar Pasundan, iya rumah Panggung.

Menaruhkan nyawanya demi sesuatu yang dia harapkan dalam hidupnya bisa memberikan warna yang indah, harapan terus untuk tetap hidup bersama dengan segala persoalannya. Kini wanita itu hanya mempunyai harapan yang terus dibungkus dengan sebuah Doa. Karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ibu.

Lalu, Tuhan yang Maha Berkehendakpun memberikan Rahmatnya dengan lahirnya seoran Putra laki-laki, tangisanya yang pertama memecahkan kesunyian sebuah rumah panggung tersebut, seisi yang ada di sana pun haru tak tertahankan. Doa dan segala hal kebaikan dipanjatkan demi masa depan seorang anak manusia tersebut.

Ya, begitulah sedikit momen dimana untuk pertama kalinya Aku lahir dan berada di dunia ini.
Dalam perjalananya namaku telah tiga kali di rubah. ada yang lucu untuk perubahan yang ketiga dari namaku ini.

Untuk tahunnya sudah lupa, tapi monentnya yang akan selalu aku ingat, nama belakang yang sekarang aku gunakan itu adalah hasil dari proses panjang untuk mendapatkan syafaat dan Rahmat dari Sang Maha Pencipta.

Dimana kala itu, pada saat proses pergantian nama ku yang ketiga, aku sedang bermain memanjat sebuah pohon yang di bawahnya adalah Empang dimana tempat masyarakat atau setidaknya kelarga besar aku memelihara ikan. Yang mana jika kita hidup disebuah desa dengan teknologi yang masih serba tradisional, proses MCK yang masih alami dimana untuk membuang kotoran itu kita harus berjongkok di Emapang tersebut, yang dihalangi oleh sebuah kain atau karung bekas.

Ketika nama belakang ku di sebutkan oleh seorang Kiyai sebagai doa dan disah kanya bahwa telah terjadi perubahan nama dalam kehidupan sosialku kelak, bersamaan dengan itupun ranting yang aku duduki itu patah, hingga mau tidak mau aku pun jatuh ke Empang tersebut.

Dua Puluh Tujuh Tahun, begitu cepat kuarasa segala sesuatu telah aku lewati dalam hidup ini, untuk menyesali terkadang jika dipikirkan kembali terasa tidak perlu, karena baik buruknya kehidupan itu adalah sebuah Kharunia, dari pada kita menyesealinya alangkah baik nya jika kita bersyukur atas segala nikmatNya.

Mengapa aku mencoba untuk menuliskan hal ini semua, karean aku rasa perlu karena di usia ku saat ini adalah tolak ukur untuk menentukan setiap langkah di hari esok. Aku pun tidak pernah meminta ataupun sudah membooking tanggal kelahiranku harus tanggal 01 Juni. Karena kira - kira setelah aku masuk SMA di Bogor baru menyadari, tanggal 01 Juni itu pun mempunyai cerita sejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa ini. Ya, hari lahirku bertepatan dengan sebuah gagasan besar dalam negeri ini ditentukan. di Sampaikanya Konsepsi dasar Negara Indonesia; Pancasila.

Dua Puluh Tujuh Tahun, bukan waktu yang sebentar jika kita itung secara matematis, itu adalah perjalanan panjang yang menghantarkan aku sampai kepada tahap sekarang ini, setidaknya sudah 839.808.000 (delapan ratus tiga puluh sembilan juta delapan ratus delapan ribu ) detik yang sudah berlalu bersama jutaan memori dan kenangan nya.

Kita selalu mempunyai tujuan dalam hidup, entah apapun itu. Tapi begitulah kehidupan yang mambawa kita kesetiap pase yang mengharuskan kita belajar dari setiap kejadian yang terlewati. Banyak hal dari proses waktu yang menghantarkan aku kepada tahap yang sekarang. Kini setiap pilihan yang kita ambil akan selalu bersamaan dengan konsekuensi yang haru kita ambil juga.

Terimakasih Kehidupan yang telah memberikan banyak arti dalam perjakanan ini, menemani setiap detik kesedihan, setiap detik kekecewaan, setiap detik kehancuran, setiap detik ari mata, setiap detik rasa bahagia, setiap detik rasa bersalah, setiap detik rasa ingin mengakhiri semuanya, setiap detik kerinduan, setiap detik penyerahan diri kepada Sang Maha Pencipta.

Dua Puluh Tujuh Tahun.
Panggil aku Rubad, setiap kata yang adalah doa yang selalu dipanjatkan oleh seorang Ibu dalam setiap sujudnya, tapi tetap saja aku masih seperti ini, berdialektika dengan segala macam persoalan dan ambisi yang tidak pernah padam untuk sebuah Negeri ini, bahkan rela mengesampingkan kehidupan ku secara pribadi, Ya begitulah aku adanya, bukan sebuah tulisan yang mengada - ngada ataupun sengaja didramatisir.

Jika ada yang menanyakan hal apa yang membuat aku sedih dan mampu meneteskan air mata, maka jawabanya adalah Berkumandangnya lagu Indonesia raya. Lalu kenapa harus hal tersebut yang dapat membuat hati dan seluruh jiwa ku terguncang bahkan bisa meneteskan air mata, bukan kah harus nya ada yang lebih tinggi dari hal tersebut, misalnya mendengan nama Tuhan Nya.

Ya memang, karena buat ku, dalam setiap nada dan kata yang terucapkan oleh sebuah lagu Indonesia Raya, disana aku melihat dan merasa ada Tuhan ku, ada ayatnya dan kharuniaNya, karena DIA telah mentakdirkan aku berada di tanah ini, menghirup udaranya, menginjakan kaki ku ke tanahnya, dan besar oleh segala hal yang DIA ciptakan di tanah ini. Aku tidak bisa melihat ketidak adilan dan kemunafikan yang terjadi di Negeri ini. Siapapun itu, dalam bentuk apapun itu, maka bagiku tidak ada toleransi untuknya.

Ibu ku adalah orang yang paling sabar di dunia ini, mengapa demikian, karena aku tidak pernah mengikuti setiap intruksinya, selalu saja memilih dengan jalan hidup ku sendiri, bahkan kata Ibu "Kamu pikirin kehidupan kamu aja dulu" tapi jiwa ini selalu menolak jika masih ada kesia - sia an dalam negeri dan tanah ini. Bahkan aku rela meninggalkan segala bentuk kenyamanan demi sesuatu yang bahkan orang lain anggap itu berlebihan. Tapi jiwa ini telah dinukilkan oleh Sang Maha Pencipta demikian.

Dua Puluh Tujuh Tahun.
Ini adalah Resolusi ku, dimana aku harus memutuskan segala sesuatu yang amat rumit, yang tentu akan berdampak yang luas dalam kehidupan aku. Termikasih bagi kalian yang pernah hadir dalam kehidupan ini, sehingga hidup ku ini begitu indah dengan berbagai macam warna. Sekali lagi tidak ada kata penyesalan walaupun terkadang amat sangat sia - sia aku melakukan perjalanan hidup yang tidak pernah ada artinya, tapi segala sesuatu itu adalah kenangan yang terukir dalam kehidupan ku yang panjang ini.

Dua Puluh Tujuh Tahun.
Setidaknya angka itu lah yang tercatat dalam administrasi negara. Bertepatan dengan hari Lahinya Pancasila sebagai bentuk komitmen negeri ini, telah ku titipkan sebuah doa dalam singgasanaNYA.

Dua Puluh Tujuh Tahun.
Lebih dari setengahnya kehidupan ku di isi dengan kesendirian, meninggalkan tempat yang paling nyaman; Keluarga. Lebih dari setengahnya aku hidup di jalanan, berjibaku dengan waktu yang tidak pernah ada kata kompromi. Lebih dari setenghanya ku isi kehidupanku dengan segala macam dinamika. Dan lebih dari setengahnya aku selalu dilema dari dua hal yang harus aku putusakan sebgai sebuah pilihan hidup.

Dan di Dua Puluh Tujuh Tahun ini pun aku masih berteman setia dengan kesunyian dan kesepian.
Ari mata ini menetes tanpa aku intruksikan, mengenang segala macam persolan yang selalu hadir dalam kehidupan, hidup dengan kekurangan kehangatan dan kelembutan dari keluarga menjadikan aku seorang yang harus berjuang sendiri dalam hal apapun.

Di dua puluh tuju tahun ini, telah banyak hal kehilangan yang menghampiri kehidupanku.
Jika berkenan aku ingin menyampaikan doa pada mu Ya Rabb..

Kesia - sia an dalam hidup harus di hentikan, harus di akhiri dengan berbagai macam canda dan tawa yang ku ciptakan sendiri. Terimakasih untuk segalanya, hingga aku sadar dimana aku berasal dan harus kemana aku berlabuh.

semua ini tidak akan cukup aku tuliskan dengan jutaan kata, karena semua ini adalah tentang angka, angka dimana telah sampai kepada Dua Puluh Tujuh Tahun.


Saya Rudi Badrudin.
Saya adalah Rubad dari setiap perkara.

Selamat datang kehidupan, bertepatan dengan Ramadhan ini maka izinkan aku untuk memulainya kembali dengan penuh konsistensi dan komitmen tinggi.

Selamat Hari Lahirnnya Pancasila.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karawang dalam Remang-remang part I

NGOMONGIN GUA PART III – MENULIS KEMBALI

BERJUMPA KEMBALI TEMAN SMA