Adakah Ke-Matia-An ?

 

Apa yang kita cari dalam kehidupan ini? dalam setiap rutinitas nafas dan gerak yang kita lalui?, tentu banyak hal yang kita cari bukan, pencapaian, popularitas, kekuasaan, jabatan, uang, kesenangan dan kepuasan, entah apalagi yang kita cari dalam hidup.

Kita seakan berpacu dengan waktu untuk mencapai itu semua, siang dan malam menjadi arena dalam pertarungan tersebut, entah siapa jurinya, diri kita sendiri kah atau orang lain, mungkin ada juri yang lebih tinggi? (begitu para kaum religius mengatakannya)

Setiap tahun, setiap detik, setiap hari, setiap menit, setiuap jam, setiap nafas yang kita lalui menjadi sebuah targetan dalam perubahan dan ukuran dalam pencapaian itu semua. Berbagai prasa dalam kata kita jadikan ukuran, "Berbaut baiklah kepada orang lain maka kita akan mendapatkan kebaikan" begitu para motivator menyemangatinya.

Banyak yang lucu ku kira dalam melihat dan memahmai segala persoalan, yang jelas itu mempuyai makna yang terdalam untuk kita sebagai (katanya) Mahluk CipataanNya. Namun jika ukuran batasannya adalah presepsi kita hanya akan berada dalam kolam yang tidak pernah merasakan derasnya arus ari yang mengalir dan dengan sendirinya tersaring oleh alam itu sendiri.

Semua hal yang ada di otak kita dan harapan kita saat ini, jika sudah tercapai itu semua lalu apa lagi? Jika akhirnya semuanya hanya berhadapan dengan sebuah kata yang disebut dengan "Kematian". Kita selalu dilanda sikologis yang amat dalam terjatuh jika hal itu berada dalam lingkaran kehidupan sosial kita, entah keluarga, sodara, atau orang yang kita kasihi.

Benarkah kematian itu ada?, apa buktinya bahwa kematian itu ada?
Jika memang ada lalu untuk apa pencapaian dan sesuatu yang ingin kita capai?

Ibarat sebuah matematika dasar, setiap hari kita targetkan pencapaian dalam hidup kita, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, semester ini harus lebih baik nilainya dari semester kemarin, dan seterusnya dan seterusnya. Ibarat matematika dasar kita menambahkan satu angka dengan angka lainnya. Contoh : 1 + 2 + 1 + 3 + 1 + 1 + ..... dan seterusnya dan seterusnya.

Lalu hal itu semua pada akhirnya kita kalikan dengan 0 (nol); kematian.
Jadi untuk apa itu semua kita kejar jika hasil akhirnya kita tahu bahwa itu adalah NOL.

Jawabanyapun akan beraneka ragam, akan banyak tafsir dan akan banyak pendapat. Tidak salah namun sedikit keliru jika kita selalu mengakitkan kepada sesuatu yang kita yakini dan percayai serta menolak dalam pemahaman yang lain.

Priordialisme adalah sikap dimana kita menganggap golongan, pikiran, dan status kita lebih baik dari orang lain, bahasa gaul nya mungkin, Sombong.

Kembali kepada persoalan yang di atas, adakah kematian itu?
contoh sederhana :
==> untuk kaum Laki-laki yang suka merokok, kita beli rokok di tempat yang jual, dalam bentuk yang biasa kita lihat, lalu roko itu kita bakar dan kita hisap sampai kita rasa tidak layak lagi untuk kita hisap, lalu pertanyaanya masih adakah roko tadi yang kita bakar?

==> Kita mempunyai barang sesuatu, baik itu uang, handphone, motor, mobil, emas, dan yang lainya, lalu barang yang kita punya itu hilang, entah apapun penyebabnya, masih adakah barang kita itu?

Apayang kita lihat itu adalah bentuk, jika bentuk yang kita lihat itu tidak ada maka kita akan mengatakan bahwa itu tidak ada. Mungkin itu sedikit perumpamaan yang sama dengan kata "Ke-Mati-an".
Masih ingat pelajaran Bahasa Indonesia? yang mengenai penempatan Kata?
dalam kata "Kematian" ada beberapa kata, masdarnya, atau kata dasarnya adalah "Mati" lalu di tambah dengan kata "Ke-An". kata - kata "Ke" itu adalah bentuk akata alat dalam menunjukan sesuatu, Seperti "Ke Sana", "kemarin", dan lain-lain.

Kematian, ada yang mengatakan bahwa kematian itu ada, setidaknya yang sering kita dengar dan kita lihat, terhadap sebuah objek yang dikendalikan subjek. Jika demikian maka "Kematian' itu adalah terhadap Bentuk.
Ibaratnya ada rekan kita yang "Mati" (red. Meninggal dunia), artinya orang tersebut menandakan bahwa yang "mati" itu sudah tidak hidup lagi seperti kita. Katanya kehidupan yang sesungguhnya itu adalah kehidupan setelah kematian.

Jika Kematian kita maknakan kepada bentuk maka semua hanya sebatas bentuk, tidak ada lagi nilai - nilai pembelajaran di dalamnya hanya sikap normatif.Semua akan selesai sampai di sini. Dan jika kematian hanya kepada bentuk maka jawabanya adalah ada (mungkin).

Namun jika kita mencoba melepaskan segala bentuk doktrin sosial antropologi sejenak, maka Kematian itu tidak ada.

Bagai mana bisa kematian itu tidak ada, sedangkan itu jelas - jelas ada dan yang nyata yang sering kita hadapi. Kita persempit persoalannya, bahwa dimana setiap orang yang tidak lagi bernafas atau tidak lagi berdetak jantung nya itu adalah mati.

Ini adalah cara agar kita bisa berdialektika, berasumsi dari berbagai macam opini, maka dari itu Saya tidak menyertakan pendapat atau kutipan dari berbagai macam referensi dari berbagai macam sumber, karena itupun akan sama saja, nilainya. Lalu kenapa tidak kita berdasarkan referensi pemikiran kita saja, yang itu dijadikan kebenaran buat kita.

Maka Masih adakah kematian itu?
Kematian adalah menuju kesudahan terkahir*

*(Biasanya dalam kaidah akademis, sesuatu yang menggunakan "adalah" itu adalah Definisi, sedangkan Definisi adalah batasan dalam satu pemahaman)

Jika kita kaji lebih dalam maka Kematian itu tidak ada, kita hari ini bergerak, melihat, dan melakukan segala hal yang kita jalani itu adanya kehidupan kan, siapa yang menghidupi itu semua? itulah yang disebut Software, jika sebuah handphone bisa melakukan berbagai macam aktivitas itu di karenakan di dalamnya ada software, dan yang kita pegang atau yang menutupi bagian dari handphone itu adalah Hardwarenya.

begitupun dengan tubuh kita, ada perangkat keras dan ada perangkat lunak, yang mana yang menghidupi kita adalah perangkat lunak atau biasa disebut secara umum itu adalah Ruh.

Ada Ruh secara Budaya dan ada Ruh secara biologis. Ruh budaya adalah dimana kita gerak secara nurani, akal, dimensi, dan waktu. Ruh secara biologis yang mendetakan kita, yang membuat kita bernafas dan sebagainya.

Jika ada orang mati atau meninggal dunia, sebenarnya itu hanya secara Ruh Biologis, Ruh budayanya tetap hidup. pertanyaan selanjutnya adalah mengapa kita bersedih jika memang tidak ada kematian? itu karena kita kehilangan bentuk, bukan kehilangan energi.

Jika demikian maka yang kita "dewakan" adalah bentuk, bukan energi dari setiap individunya. yang pada akhirnya adalah "Ruhan min Amrina".
Tidak ada yang salah untuk bersedih ketika ada kematian, namun kita lupa akan satu hal, bahwa sesuatu itu adalah bentuk ke-ada-an. Mereka ada, namun dalam bentuk dan ruang yang berbeda.

Seperti Rokok tadi, satu batang rokok itu dinamakan ketika belum kita bakar dan belum kita hisap, setelah kita hisap dan kita bakar maka sisanya itu menjadi "Rokok" dalam bentuk lain, dalam bentuk puntung, dalam bentuk asap, dalam bentuk abu, dan dalam bentuk sampah, dan dalam bentuk nikotin yang menempel di paru-paru dan darah kita.

begitulah kematian adanya, sehingga kematian adalah proses dimana kita menuju kesudahan terakhir, yang paling miris adalah sudah mah sudah, terakhir lagi..

Karena Kematian itu ada, dia bisa ada dimanapun, karena Ruh nya ada dua maka orang yang saat ini berbicara dengan kita pun bisa dikatakan mati. Mati secara Ruh budaya, jika tidak ada pondasi atau rell kehidupan yang menjadi batasannya. itulah biasanya disebut dengan Moralitas.

Mari kita selami kehidupan dengan tidak menjadi menuju keMatian, hidup sebagai mana hidup. apa itu hidup sebagai mana hidup. ,mungkin itu akan saya urai di tulisan selanjutnya, saya sangat senang jika ada dialektika mengenai hal ini. agar kita lebih menjadi manusia yang kafah.

to be continued........

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karawang dalam Remang-remang part I

NGOMONGIN GUA PART III – MENULIS KEMBALI

BERJUMPA KEMBALI TEMAN SMA