Modal Cinta Doang?
Bermula dari sebuah stetment salah satu dosen hukum gua ketika semester 2 (dua). Pada saat gua memasuki semester dua di Fakultas Hukum sebuah Universitas kebanggaan, Universitas Pamulang (Unpam).
Seorang dosen wanita yang sudah berkeluarga dan mempunyai satu anak itu mengajar matakuliah Hukum Perdata, di hari pertama adalah hari dimana kontrak belajar dan perkenalan seorang dosen tersebut dengan para mahasiswa yang ada di kelas gua. Memang hari itu tidak ada matakuliah yang di bahas, semuanya lebih kepada perkenalan dosen tersebut kepada para mahasiswa yang akan di ajarnya.
Gua sangat menghormati dosen tersebut, karena metode penyampaian materinya memgenai Hukum Perdata sangat baik, bahkan menurut gua Hukum Perdata yang rumit tersebut bisa menjadi mudah dan dapat dipahami dengan baik. Berawal dari sebuah argument beliau mengenai pasangan (pacar/pasangan hidup). Kalau tidak salah beliau berucap bahwa "nyari pasangan itu bukan cuma modal cinta". Sebenarnya gua paham maksud dari dosen hukum perdata gua itu, namun karena gua senang dengan argument dan kritis, jadi stetment dosen gua itu langsung aja gua tanggapi dengan berargumen : "ya harus nya semuanya selalu dengan cinta dong bu, paradikma itu seperti yang ibu itu yang menurut saya keliru", kurang lebih gua menanggapi dengan seperti itu, dan tentu ada sedikit perdebatan opini di sana, yang pada akhirnya gua sepakati pendapatnya beliau tersebut karena tidak ingin ada salah presepsi dan salah paham di situasi tersebut.
Nah melalui blog gua ini, gua ingin sedikit menuanagkan pemahaman gua ataupun mungkin sebatas opini gua terkait hal itu.
"Jangan cuma modal cinta"
Sering kali kata tersebut kita temui kepada situasi sebuah hubungan yang memang sudah tergerus oleh moderenisasi seperti saat ini, bahkan sampai ada yang berargument "emang rumah tangga itu mau makan cinta doang". Maksud dari kata tersebut sebenarnya adalah untuk memastikan penjaminan masa depan seorang wanita dan rumah tangganya. Namun menurut gua stetment tersebut sudah keliru pemaknaan dan penempatanya, setidaknya ada beberapa alasan bagi gua untuk membedah hal tersebut;
1. Jangan Cuma Modal Cinta doang!.
Argumen itu menurut gua hanya berlaku kepada orang-orang yang pesimis terhadap pasanganya. Karena dalam pihak lain argument tersebut tidak berlaku pada sebagian pasangan.
Setidaknya bagi gua adalah dalam setiap hubungan itu harus bermodalkan cinta, artinya adalah seorang laki - laki atau pasangan kita memastikan kebahagiaan dan penghidupan dengan pasangannya itu harus dengan cinta.
Contoh sederhananya gini, seorang laki-laki atau suami bekerja keras untuk pasangannya itu harus dengan cinta, sehingga bukan paksaan untuk menjalani dan mengupayakan kebahagiaan hubungannya itu. Modal cinta adalah dasar gerak bagi seorang laki-laki atau perempuan untuk berjuang secara ikhlas, dengan cinta. Seberat apapun itu ya harusnya bermodalkan cinta dalam membahagiakan pasangannya.
Namun jika sebaliknya, menafkahi dan memperjuangkan sebuah komitmen (apalgi dalam ruamh tangga) tidak dengan cinta, maka salah satu diantara keduanya pasti akan tidak berjalan seiringan, selalu ada yang terbebani, dan akan ketiadaan romantisme dalam sebuah hubungan tersebut.
Bermodalkan cinta dalam sebuah hubungan justru itu perlu, karena itu adalah dasar dalam menjalani sebuah komitment, dengan demikian ada kesungguhan dalam mengupayakan dan menciptakan kebahagiaan, tentunya bukan tuntutan yang di kedepankan tapi rasa tanggung jawab dari setiap insan untuk pasangannya.
2. "Emang mau makan cinta"
Memang ada yang salah kah dengan hal itu? Atau memang gak boleh kah kita makan cinta?. Sebenarnya pemahaman yang sangat sempit jika masih ada yang mempersoalkan itu menurut gua, karena hal itu tidak bisa dipisahkan dengan persoalan yang pertama tadi di atas.
Dalam sebuah hubungan apalagi rumah tangga perlu adanya toleransi dan pemahaman yang tinggi serta luas. Jika sebuah hubungan didasari / bermodalkan cinta maka apa yang kita makan itu ya bagian dari cinta kan?. Seorang suami bekerja keras membahagiakan istri dan keluarganya itu harus penuh dengan cinta, sehingga seberat apapun usaha dan upayanya itu selalu bahagia dan ikhlas menjalaninya, sehingga apapun yang dihasilkan dengan cara yang benar untuk sesuatu yang benar terhadap pasangannya itulah yang kita makan dengan cinta.
Harusnya seorang wanita memahami hal tersebut untuk menghargai dan menjaga ke kokohan rumahtangga nya ataupun komitmen nya. Karena sebuah hubungan itu bukan perkara fantasi semata. Jika seorang wanita hanya berorientasi kepada materi semata, menurut gua tidak ada bedanya (maaf) dengan Lonte yang di legalkan semata.
Pekerja Sex Komersial (PSK) yang sering distigma negatif oleh masyarakat hari ini itu juga kan berorientasi hanya kepada Sex, dan para pelakunya pun bukan dengan cinta melakukan hal tersebut. Jadi jika bukan dengn cinta maka kesimpulan gua sebuah hubungan itu bukan sesuatu yang penuh dengan tanggung jawab dari setiap insan, hal itu hanya sebatas fantasi semata.
Maka gua tidak sepakat jika masih ada yang berargument bahwa setiap komitmen atau hubungan itu tidak memprioritaskan cinta di dalam nya. Itulah yang gua sebut paradikma yang keliru dalam menggunakan kata tersebut jika dilihat hanya dengan cara yang sempit. Maka dari itu, jadilah cerdas dalam memahami setiap persoalan yang ada, karena seyogyanya sebuah hubungan itu adalah mempermanen kan bukan menghancurkan.
Karawang, 6 Juli 2016.
Komentar
Posting Komentar