Kesalahan Filosofis
“REFLEKSI 70 TAHUN
KEMERDEKAAN INDONESIA”
Dengan subtema :
“POLITIK DAN DEMOKRASI”
Judul
“KESALAHAN FILOSOFIS”
RUDI BADRUDIN
17 Agustus 2015
nanti adalah tepat dengan 70 tahun Indonesia Merdeka. Ya, sudah 70 tahun
Indonesia mengarungi setiap jejak langkah perjuangan yang amat penuh dengan
cerita dan warna, menuju apa yang diharapkan dan dicita-citakan dari sebuah
negara yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, berjibaku melawan segala
bentuk penindasan dan kekuasaan agar mampu menjadi negara yang mandiri dan
mempunyai hak dalam mewujudkan harapan yang dimiliki oleh segenap bangsa
Indonesia merdeka. Kini 70 tahun telah berlalu, 70 tahun telah terlewati, 70
tahun telah kita coba dan pelajari mengenai jejak langakah sebuah negara yang
merdeka. Hari ini, di usia yang ke 70 tahun sudah sampai dimana Indonesia
mencapai cita-citanya. Mencoba merefleksi perjalana panjang dari Kemerdekaan
Indoensia yang ke 70 tahun ini.
Berkaca pada
hari ini, melihat segala media membahas dan mengulas situasi dan kondisi negeri
ini, sungguh memprihatinkan. Di bidang Hukum, masyarakat sudah apatis melihat
penegakan hukum yang terjadi di negeri ini, mulai dari kasus korupsi yang
dilakukan para pemangku kekuasaan, dari mulai tingkat paling tinggi sampai
tingkat paling rendah (RT/RW), pembunuhan, pencurian, perkelahian, pertikaian,
jual beli hukum, bahkan keterlibatan hakim dan pengacara dalam kasus suap
menyuap dalam menyelesaikan sebuah kasus hukum, lembaga Advokat Indonesia
(PERADI) sebagai lembaga yang seharusnya mencerminkan para profesional dibidang
hukum pun tidak lepas dari perpecahan.
Di bidang
politik semakin pelik, dualisme kepengurusan partai politik, perpecahan dalam
internal pengurus partai politik, sikap saling menjatuhkan dan mencela antar
partai politik, itu semua menjadi isu dan “makanan” sehari-hari kita di media
masa. Politik hanya dijadikan alat untuk memecah belah dan membuat keributan
antar pendukung, pengurus, dan kepentingan kekuasaan.
Paska reformasi,
Indonesia yang “katanya” menjadi percontohan negara Demokrasi sudah kelewatan
batas dari yang semestinya. Keran reformasi yang dibuka membawa Indonesia ke
masa yang baru, masa yang tidak pernah tahu kemana akan dituju. Atas nama
demokrasi semua orang bebas untuk berekspresi tanpa harus memperdulikan
sikap-sikap jati diri sebagai bangsa Indonesia yang dilahirkan dari sejarah dan
perjuangan panjang. Atas nama demokrasi kita mengoyak-ngoyak kepentingan bangsa
demi kepentingan pribadi dan kelompok yang kuat, hal ini dapat kita lihat dari
segala media masa yang kita jumpai, perendahan kepada Presiden dengan
menggunakan karikatur ataupun meme yang
dilakukan oleh anak bangsa itupun seakan wajar atas nama demokrasi.
Kepala negara dan Pemerintahan sebagai cerminan dari sebuah negara dan bangsa direndahkan oleh negerinya sendiri, integritas dan marwah sebagai kepala negara dipermalukan, direndahkan, dan dicemooh. Bagaimana kita sebagai suatu bangsa dan negara bisa dihormati di dunia internasional, jika kita sendiri malah merendahkan siapapun yang menurut kita tidak pantas menjadi seorang pemimpin negeri ini, sikap kepantasan pun hanya sebatas opini dan kepentingan atas nama demokrasi.
Kepala negara dan Pemerintahan sebagai cerminan dari sebuah negara dan bangsa direndahkan oleh negerinya sendiri, integritas dan marwah sebagai kepala negara dipermalukan, direndahkan, dan dicemooh. Bagaimana kita sebagai suatu bangsa dan negara bisa dihormati di dunia internasional, jika kita sendiri malah merendahkan siapapun yang menurut kita tidak pantas menjadi seorang pemimpin negeri ini, sikap kepantasan pun hanya sebatas opini dan kepentingan atas nama demokrasi.
Melihat
permasalahan-permasalahan yang semakin hari semakin pelik di negeri ini yang
hampir 70 tahun menghirup udara kemerdekaan di buminya sendiri sudah saatnya
kita merefleksikan diri mengenai arah dan makna perjuangan sebuah kemerdekaan
tersebut.
Bangsa Indonesia
dibesarkan di alam penderitaan dalam penjajahan, sikap kesewenang-wenangan
tersebut membuat kita semakin hari semakin menderita dan membuat kita berempati
terhadap kondsi tersebut, sehingga sampailah kita pada hari dimana kita
berharap sebagai suatu bangsa Indonesia untuk merdeka, dari sabang sampai
merauke kita menyerukan kata Kemerdekaan, Merdeka! Pada tanggal 17 Agustus 1945
di dalam waktu yang teramat sempit, dan disaat situasi yang begitu rumit.
Belajar dari
sejarah, melihat hari ini tentang politik dan demokrasi tentu kita akan semakin
melihat kesalahan-kesalahan filosofi terhadap bangsa dan negara kita sediri.
1.
Bidang Politik
Politik adalah alat diaman
kita dapat mencapai apa yang kita harapkan dan inginkan, marwah itu sepertinya
menjadi sebuah dasar pemikiran dalam setiap teori mengenai Ilmu Politik. Pada
dasarnya Politik bukanlah sebuah hal yang mengerikan dan memalukan, tapi dalam
pelaksanaanya seringkali kita melihat hal demikian menjadi sebuah situasi yang
memalukan jika melihat ukurannya adalah etika dan moral, seharusnya Politik
adalah sebuah isyarat untuk dan guna mencapai sesuatu yang lebih baik. Bicara
politik pasti tidak lepas dengan sistem dan pengguna politik itu sendiri,
apalagi di Indonesia negara yang kita cintai ini. Bicara politik hari ini dalam
masyarakat yang luas pasti pemahamannya kepada “kekuasaan”, sikap ingin
menguasai dan melakukan segalanya atas kehendaknya, yang pada akhirnya tentunya
mengarah kepada pencapaian yang ingin dicapai.
Sejak awal permulaan
perjuangan kemerdekaan Indonesia pun, tidak lepas dari politik untuk mencapai
Indonesia Merdeka, politik menjadi alat guna hal tersebut tercapai, tapi
politik bukanlah sebuah alasan mutlak untuk mencapai harapan dan tujuan
tersebut, karena tujuan utamanya adalah sebuah kemerdekaan. Tapi hari ini
politik hanya dipahmai sebagai polemik dan hasrat menguasai semata. Sebagai
pengguna politik yaitu Partai Politik (parpol) harusnya menjadi media dalam
mencapai setiap tujuan dari sebuah masyarakat dalam negara demi tercapainya
tujuan dari suatu negara itu, tapi hari ini partai politik hanya sebagai wahana
huru hara yang terorganisir yang sikapnya sangat memalukan.
Ketika keran reformasi
dibuka pada awal era pergerakan reformasi, partai politik menjadi media dalam
kontitusi sebagai cerminan dalam pengambilan keputusan dan kekuasaan, hal ini
menjadikan bertumbuhnya berbagai macam golongan paratai politik. Jika kita
melihat pada visi dan misi setiap partai politik semuanya menuju kepada satu
titik yang sama, yaitu kepentingan bangsa dan negara serta masyarakat luas
khusunya di Indonesia. Banyak partai politik dengan bermuara kepada tujuan yang
sama kenapa tidak mampu menyatukan hal itu? Malah semuanya saling bertentangan
dan menjatuhkan satu samalain, semua itu sangat wajar karena semuanya (parpol)
dibatasi oleh ideologi masing-masing parpol itu sendiri.
Padahal jika kita membaca
setiap arah dan dasar pendirian parpol tidak lepas dari pada dasar negara kita
yaitu, Pancasila. Tapi kenapa ideologi bangsa tersebut tidak mampu menjadi alas
persatuan menuju Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Pada era perjuangan kemerdekaan Politik hanya
dijadikan alternatif dalam perjuangan kemerdekaan, karena musuh yang sama yaitu
kaum penjajah. Sehingga pada masa itu untuk memperjuangkan hak-hak pribumi
harus ikut dalam politik, ini bisa kita lihat dalam materi-materi sejarah di
Indonesia. Pertanyaannya apakah ketika kemerdekaan itu dicapai oleh partai
politik? Atau oleh sebuah politik?, 17 Agustus 1945 kita berikrar sebagai
negara yang merdeka bukan karena politik, tapi rasa iba melihat kondisi negeri
yang bagaikan “sampah” kaum penjajah, politik digunakan kala itu sebagai
strategi untuk mencapai dan membawa Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan
mencapai kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Rasa iba akan kondisi bangsa yang semakin tertindak, kesewenag-wenagan, sikap tidak manusiawi, serta penindasan-penindasan yang lainnya sebagai tolak ukur mengapa politik sebagai alat untuk mencapai kemerdekaan, tentunya sejak harapan itu ada untuk melepaskan diri kepada musuh bersama yaitu para kaum komprador dan penjajah (kapitalisasi dan Imperialisasi) politik tidak lagi menjadi sebuah konsensus untuk mencapainya, semua rakyat melepas diri pada pemahaman golongan, semua menyatu padu untuk Merdeka.
Rasa iba akan kondisi bangsa yang semakin tertindak, kesewenag-wenagan, sikap tidak manusiawi, serta penindasan-penindasan yang lainnya sebagai tolak ukur mengapa politik sebagai alat untuk mencapai kemerdekaan, tentunya sejak harapan itu ada untuk melepaskan diri kepada musuh bersama yaitu para kaum komprador dan penjajah (kapitalisasi dan Imperialisasi) politik tidak lagi menjadi sebuah konsensus untuk mencapainya, semua rakyat melepas diri pada pemahaman golongan, semua menyatu padu untuk Merdeka.
Tapi hari ini, jika politik
sebagai alat untuk mencapai kesejahteraan bagi rakyat Indonesia seharusnya ada
musuh bersama untuk menghilangkannya dan mecapai visi yang selalu
digembar-gemborkan dalam politik. Pertanyaanya siapakah musuh bersama itu saat
ini? Asing kah? atau bangsa Indonesia sendiri?, jika memang jawabanya adalah
musuh bersama itu pihak asing, tapi kenapa konsepsi politik hari ini mengacu
pada pemikiran dan teori dari pihak asing? Kenapa kita sangat ketergantungan
kepada teori-teori asing itu, jika memang musuh bersama kita adalah asing.
Tapi jika musuh bersama kita
membangun politik dan alat partai itu adalah Bangsa Indonesia sendiri, siapa
yang harus kita musuhi? Bukankah kita mengungakan alat politik guna mencapai
kesejahteraan bagi seleuruh rakyat Indonesia? Kita memperjuangkan kemakmuaran
untuk musuh kita sendiri kah?, kenapa kita tidak bersatu padu untuk mecapai
kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia? Malah kita sibuk dengan perpecahan
antar partai saling mengklaim merasa paling benar dan paling bisa, bukankah hal
itu yang telah mengalahkan kita hingga menjadi negeri terjajah selama puluhan
tahun bahkan ratusan tahun.
Kita mendewakan politik
sebagai alat perjuangan untuk negeri kita sendiri tapi tanpa kita sadari kita
telah memecah belah bangsa kita sendiri yang kita perjuangkan itu. Kita telah
lupa pada arah perjuangan kita hari ini, 70 tahun merdeka hanya sebagai
rutinitas hura-hura tanpa makna dan hanya selametan (syukuran) tanpa menyelamatkan. Kita
telah meninggalkan ruh kemerdekaan yang telah dibangun puluhan tahun dengan
seluruh jiwa dan raga dan penuh dengan pertumpahan darah, apakah hari ini kita
ingin mengembalikan situasi buruk itu lagi. Jelas kita telah keliru memaknai
arti dari perjuangan kemerdekaan.
2.
Demokrasi
Selain politik hari ini yang sudah keliru dan keluar
dari arah perjuangan mengenai Demokrasi. Katanya demokrasi adalah media rakyat
untuk menyampaikan dan menentukan alat perjuangan rakyat dalam menentukan setiap
kebijakan yang akan dibuat. Demokrasi hari ini adalah demokrasi partai, bukan
lagi demokrasi rakyat.
Hanya sebatas teori bahwa negara demokrasi adalah
cerminan dari sebuah negara yang mementingkan kedaulatan rakyatnya dibanding
sebuah otoriter kekuasaan, hal itu jelas hanya kamuplase semata. Kita lihat
negara yang paling demokrasi hari ini, katakan saja Amerika Serikat yang
disebut-sebut sebagai negara demokrasi dan percontohan untuk negara-negara yang
lain, apakah sudah mencapai sebuah kedaulatan rakyat? Pencapainnya hanya kepada
kedaulatan partai dan kedaulatan kapitalis sebagai pemilik modal dan yang
mempunyai kepentingan.
Partai politik sebagai representatif dari demokrasi
tadi, padahal jelas demokrasi yang katanya dari rakyat, bersama rakyat, dan
untuk rakyat hanya sebatas pemanis buatan yang jika terus digunakan akan
mengakibatkan diabetes. Pemilihan Umum (Pemilu) menjadi ukuran dalam
penyelengaraan negara yang demokrasi, padahal kita dipaksa untuk memilih pada
suatu hal yang bukan pilihan kita. Pencalonan dari partai politik tadi sebagai
alat demokrasi memaksa kita untuk menentukan sesuatu hal yang bukan datangnya
dari kita, kita dipaksa untuk diadudomba antar bangsa kita sediri.
Demokrasi yang dari rakyat tadi sepertinya hanya
rakyat yang berpartai semata, lalu rakyat yang tidak berpartai dimana
peranannya?. Pemilu menjadi media dalam mengukur tingkat demokratisasi sebuah
negara, padahal jelas hal itu hanya sebatas kepentingan bagi partai itu sendiri.
Bagai mana tidak jika itu hanya untuk kepentingan partai politik semata bukan
lagi untuk kepentingan rakyat, lihat saja mekanisme pelaksanaan dari demokrasi
dan pemilu sembagai ukurannya, partai memasang calon untuk menjadi wakil dan
pemimpin kita dengan berbagai macam visi dan misinya yang mencoba diberitahukan
kepada kita semua, padahal visi dan misi itu kita sebagai rakyat tidak
mengingginkan ataupun bukan kehendak kita, lalu kita dipaksa untuk memilih
sesuatu hal yang bukan datangnya dari kita dan itu dikatakan demokrasi?.
Dimana peranan rakyatnya? Hanya dibatas mengikuti pemilu yang hanya satu hari itu? Setelah itu selesai? Jika memang dari rakyat, bersama rakyat, dan untuk rakyat, kenpa rakyat secara menyeluruh tidak pernah diikut sertakan dalam menentukan kebijakan diparlemen? Kenapa setiap kebijakan selalu muncul dari kepala-kepala kader partai? Apakah mereka semua berangkat dari rakyat yang masuk partai yang dipilih oleh kita semua dengan cara “memaksa” itu disebut bagian dari rakyat, lalu rakyat yang tidak berpartai dimana peranannya?. Yang sangat menonjol dari kesalahan filosofis arah gerak bangsa ini selama 70 tahun merdeka adalah setiap penetuan kebijakan sebagai hasil dari demokrasi tadi selalu mendapat pertentangan dari rakyat, katanya politik dan demokrasia dalah cerminan dari rakyat, kenapa selalu menimbulkan pro dan kontra?.
Dimana peranan rakyatnya? Hanya dibatas mengikuti pemilu yang hanya satu hari itu? Setelah itu selesai? Jika memang dari rakyat, bersama rakyat, dan untuk rakyat, kenpa rakyat secara menyeluruh tidak pernah diikut sertakan dalam menentukan kebijakan diparlemen? Kenapa setiap kebijakan selalu muncul dari kepala-kepala kader partai? Apakah mereka semua berangkat dari rakyat yang masuk partai yang dipilih oleh kita semua dengan cara “memaksa” itu disebut bagian dari rakyat, lalu rakyat yang tidak berpartai dimana peranannya?. Yang sangat menonjol dari kesalahan filosofis arah gerak bangsa ini selama 70 tahun merdeka adalah setiap penetuan kebijakan sebagai hasil dari demokrasi tadi selalu mendapat pertentangan dari rakyat, katanya politik dan demokrasia dalah cerminan dari rakyat, kenapa selalu menimbulkan pro dan kontra?.
Politik dan Demokrasi hari ini, sudah keluar dari arah
perjuangan yang selama 70 tahun merdeka, kita sebagai suatu bangsa yang
berdaulat sendiri sudah meninggalkan cita-cita kemerdekaannya sendiri, kita
lupa bahwa ditanah ini (indonesia) tersimpan warisan mengapa para pengusaha saat ini masih ketergantungan oleh asing, padahal kita
mampu untuk menentukan mereka. Mengapa hari ini para pemangku kebijakan dan
pemimpin kita selalu sibuk dengan pertikaian dibanding persatuan. Mengapa para
pemegang modal negeri kita hanya bahagia jika menjadi budak asing, tidak bangga
menjadi pelopor?.
Apakah hal itu semua menandakan kita negara yang
merdeka? Kurang apa bangsa Indonesia mewarisi peradaban dunia ini dengan
seluruh sumber alam yang terkandung didalamnya. Cukuplah 70 tahun kita medeka
untuk merefleksi semuahal guna kepentingan bangsa Indonsesia yang dimana itu
semua ada kita di dalamnya. Kita telah salah meletakan landasan filosofis dalam
perjalanan bangsa ini mencapai 70 tahun merdeka, mari kita kembali pada tujuan
kemerdekaan Indonesia kepada visinya Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan
Makmur.
Merdeka
BalasHapusMerduka..
BalasHapushehe