70 TAHUN INDONESIA

"SEBUAH KADO KECIL UNTUK 70 TAHUN INDONESIA"
RUDI BADRUDIN


Ternyata kita sudah semakin jauh tinggal di tanah ini, bersama dengan riteratur sejarahnya kita belajar, belajar mengenai arti menghargai. Indonesia, Negara yang tidak pernah disangsikan ke kayaannya, penuh dengan pesona dan keindahan untuk siapa saja yang menikmatinya. Kita sebagai putra mahkota penerus kedaulatan ini sudah sejauh mana kita menghargai akan apa yang telah diberikan oleh alam dan bangsa ini?!.
Indonesia, namamu pernah menjadi sebuah penakluk dari segala kesombongan dan kemurkaan yang ada, menjadi Negara yang memiliki pesona dalam sejarah yang tidak bisa dielakan. Kemana semua itu hari ini? Apakah masih ada? Atau hanya sebuah cerita keindahan masa lalu? Entah lah aku pun tidak ingin mengungkitnya kembali atau sekedar muak dengan semua yang telah terjadi.
Apa yang kita harapkan dari Negara ini? Bahkan untuk belajar menghargainyapun kita tidak mampu, kita hanya menjadi perusak diantara perusak yang ada, kita hanya menjadi perngacau dari kekacauan yang ada. Mengapa hal demikian terjadi pada tanah ini, jawabnya satu, karena “mereka” tidak ingin kita menjadi hebat kembali seperti waktu yang telah usang. Jika demikian, apakah kita akan diam saja? Atau hanya menikmati yang sudah terjadi.
Sepertihalnya air, ia akan menemukan laut jika ia mau mendobrak segala hal yang menghalanginya, menghantam bebatuan yang keras, reseok-seok bersama ranting-ranting tua, tercemar dengan segala kekotoran yang ada, hingga pasa saatnya ia akan sampai pada dimana tempat yang teramat luas itu menyambutnya bersama senja yang indah. Tetapi jika ia berenti dalam kobakan dan genangan maka ia akan mati kering terbakar matahari yang sangat panas.
Lalau dimana kita hari ini? Hanya berdiri terdiam dan bersikap biasa dari keadaan, tanpa menghiraukan segala bentuk yang seharusnya terjadi. Marilah kita semua sadar, sudah saatnya kita menjadi hebat akan diri kita sendiri. Bukan lagi memusuhi negeri ini dengan berjuta emosi.
Indonesia, jika memang kita tidak suka dan merasa semuanya tidak seperti apa yang kita harapkan, mengapa sampai detik ini kita masih berada dan berpijak pada tanahnya? Kenapa kita tidak pergi saja ketempat yang menurut kita itu adalah satu pemahaman dengan kita. Dimana itu, entahlah, tergantung kita semua berpandangan, jika yang berpandangan sebagai kapitalsi, kenapa tidak membangun di tanah yang subur kapitalisnya; Amreika. Kalau kita berpandangan Komunis, mengapa kita tidak hijrah dimana ia dapat hidup; Cina. Jika kita merasa hanya dengan Daulah Islam saat ini yang di gembar-gemborkan, kenapa tidak hidup dimana ia ada; Arab Saudi. Lalu kenapa kita masih terdiam dimana hal itu semua tidak pernah ada, ataupun tanah ini mempunyai kedaulatan sendiri.
Berbicara Indonesia hari ini, sebagai Negara Hukum dan mengedepankan supermasi hukum dalam penegakan sistem Negara demi tercapainya cita-cita, mengapa hal demikian tidak kita pahami dengan utuh? Negara hukum adalah dimana sutau Negara menjalankan roda pemerintahannya berdasarkan Hukum, begitulah teori yang saya dapatkan dalam ruang kelas akademis. Lalu timbul pertanyaan, jika memang Negara Hukum adalah sebuah Negara yang menjalankan segala bentuk pemerintahan dan tata kelolanya berdasarkan Hukum bukan kekuasaan, kita lihat hari ini siapa yang membuat Hukum itu sendiri? Jika dikaitkan dengan Indonesia jelas hukum dibuat oleh Parlemen, lalu siapa Parlemen ini? Parlemen ini adalah wakil-wakil Partai yang mempunyai kepentingan akan partainya sendiri, bukan kepada rakyat secara menyeluruh, artinya aturan (hukum) dibuat untuk kepentingan golongan, dan Negara menjalankan pemerintahanya berdasarkan kepentingan golongan bukan kepentingan rakyat.
Supermasi hukum sebagai pelaksananaya mengacu kepada hukum itu sendiri, sedangkan kita sama-sama tidak menutup mata bahwa hukum dibuat oleh mereka yang berangkat dari partai ataupun non paratai yang semunya mempunyai kepentingan peribadi dan kelompok. Lalu dimana kita yang tidak berpartai, dimana kita yang tidak berpihak kepada kebohongan? Kita berada dalam setiap jengkal ketidak penentuan dan mengoyak setiap waktu untuk kita pahami. Masih adakah supermasi hukum itu?
Indonesia, jelas dia mempunyai jatidirinya sendiri, lalu mengapa kita paksakan dia untuk menggunakan pakaian yang tidak cocok dengan dirinya? Mengapa kita merasa bahwa busana orang lebih pantas untuk dia. Hal itu jelas keliru, sangat keliru bahkan untuk kita pahmai. Indonesia sebelum dan sesudah datangnya India sebagai penjajah pertama yang menduduki tanah Banten melalui kerajaan Salakanegara yang pada awalnya milik kita (yang didiami Aki Tirem) lambatlaun tidak mempunyai lagi kedaulatannya, dia telah di makeover total menajadi asing. Mengapa demikian lihat saja setiap teori ilmu pengetahuan selalu mengacu kepada barat, sehebat apa barat sehingga kita harus menggunakannya?.
Dalam Ilmu Hukum yang saat ini Saya pelajari disebuah Universitas, Saya memahai satu hal bahwa Hukum Indonesia atas dasar pemikiran dari orang luar, bukan muri dari tanah ini, kita dipaksa untuk menggunakan busananya, yang padahal itu tidak cocok baik dengan lekuk tubuh kita, maupun dengan jati diri kita.
Seharusnya kita adalah kita, dia adalah dia. Orang kembar identikpun tidak akan pernah sama, minimal dari sisi karakter, lalu mengapa kita memaksakan diri untuk sama dengan mereka yang jelas hanya tujunya untuk mengkebiri hak kita sebagai Negara yang berdaulat. Dan semakin parahnya generasi mudanya sebagai tonggak kedaulatan negeri ini dihancurkan oleh segala bentuk perusakan pola piker dan mindset.
Dalam sebuah buku pendidikan kewarganegaraan (yang pengarangnya saya lupa) yang saya beli di sebuah took buku di sekitar Blok M plaza pada waktu lalu, saya baca bab pertama pada poin ke satu, di paragraf ke tiga disana menjelaskan bahwa “Keadaan nasional dipengaruhi oleh keadaan gelobal, dan cara berfikir masyarakat kita tergantung kepada stuktur globalisasi yang sendang berkembang” kurang lebih seperti itu.
Jelas hal itu memberikan kita sebuah informasi baru untuk kita analisa, kita lihat saja bagai mana keadaan Nasional sangat terpengaruh oleh keadaan gelobal. Jika Amerika sangat memburu setiap Negara dan menyebarkan virus Demokrasi kepada setiap Negara untuk digunakan, partai politik, pemilu dengan voting, itu menandakan bahwa kita terpengaruh oleh keadaan gelobal tersebut, kita menggunakan teori ekonomi mikro dengan pemikir dari barat, kita mengunakan teori politik dengan cara pandang kita kepada asing, dan kita menerapkan Negara hukum dengan orientasi teori kepada mereka-mereka yang tidak mengerti dan paham akan diri kita sendiri. Jelas hal itu ciri yang sederhana bahwa kita masih menjadi anak ingusan bagi mereka.
Bukan hanya itu bahkan, cara berfikir kita pun terpengaruhi oleh stuktur gelobalisasi, yang paling menjamur dan efeknya sangat signifikan adalah Boyband yang coba ditawarkan oleh Negara Korea Selatan, berawal dari sebuah music grup dan itu mendapat perhatian dan penggemar khusus, sehingga kita sangat mengidolakan setiap artis-artis Korea, apa itu salah? Tentu tidak, yang salah adalah kita mengidolakan semua itu dengan kita lupa akan diri kita sebagai Negara Indonesia, kita lupa dan kita tidak sadar bahwa kita sendang dijajah pola piker oleh mereka, dengan akibat kita itulah prodak masyarakat murni sulit untuk bersaing dengan prodak-prodak luar hasil inpor kita terhadap Negara-negara tersebut.
Indonesia, sudah tidak ada kepedulian dan empatikah kita terhadap Negara dan tanah yang kita pijak sejak lahir ke dunia ini? Sudah bukan merah putih lagi kah kita saat ini? Jika memang sudah bukan, mengapa kalian masih bertahan tinggal di sini? Mengapa kalian masih menikmati udara dan alam yang ada di sini? Mengapa? Ternyata kalian adalah komprador-komprador baru yang berkulit hitam, benar saja perkataan Soekarno sebagai proklamator dan sejarah bahwa perjuangan kita akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri, ternyata itu semua adalah kalian yang bersembunyi dibalik ketiak kebohongan dan kedustaan.
Aku mulai paham bahwa cecunguk-cecunguk kalian lah yang seharusnya aku basmi bagai wabah penyakit di kebun dan pekarangan rumah, hingga tidak ada lagi yang tersisa dan menyebar sampai ke usus dan merusaknya dari dalam, biarkan saja dulu nikmati yang masih bisa kalian nikmati, toh aku pun masih dalam ruang belajar masih belum mempunyai peranan apapun, tapi ketika nanti, bila sampai waktuku ku mau tak seorang pun kan merayu.
Untuk Indonesia yang telah mengajariku banyak hal mengenai arti memiliki dan menghargai serta memperjuangkan tanah dan negeri bersama bangsa ini menuju pencapaian kemerdekaan yang sejati. Untuk 70 (tujuh puluh) tahun yang telah berlalu, aku ucapkan terimakasih segala bentuk dedikasi yang telah diberikan, terimakasih buat para leluhur yang bersedia bersatu dan berjuang menuju satu kemerdekaan. Maafkanlah generasiku yang tidak menghargai sedikitpun arti Bangsa Ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karawang dalam Remang-remang part I

NGOMONGIN GUA PART III – MENULIS KEMBALI

BERJUMPA KEMBALI TEMAN SMA